Minggu, 19 Agustus 2012

Edelwis

Aku dan hujan seperti satu kesatuan tak terpisahkan. Seperti seorang ibu dan puting asinya. Seperti seorang pria dengan jakunnya. Atau seorang bayi dengan tangisannya.
Bagiku hujan adalah untuk waktu mengenangmu, memikirkanmu.
Aku baru ingat, ternyata selain aku dan hujan, ada satu elemen lagi. Seikat bunga, bernama Edelweis.
Bunga yang hingga kini masih tertata rapi pada vas bunga di samping tempat tidurku.

Seperti yang sudah di rencanakan, hari itu, aku dan AL menuju ke merapi. Ingin menikmati dinginnya udara merapi, berdua. Dan juga demi membeli seikat bunga yang konon abadi, bernama Edelweis. Sepanjang jalan awan sepertinya mulai memberi tanda bahwa waktunya sudah tiba untuk menangis. Untung saja pengenapan tanda tersebut terjadi ketika kami sudah sampai di lereng merapi. Hingga kami putuskan untuk berteduh di salah satu warung, yang menurut pengakuan beberapa orang, pemilik warung tersebut adalah adik kandung dari alm. Mbah Marijan.

Menunggu mungkin membosankan, tapi tidak bagiku dan AL. Kami sangat menikmati menunggu redanya hujan. Di temani segelas kopi dan beberapa pisang goreng.
“ Yang, hujan nya ga reda-reda…masih mau nekat ke atas.” Tanyaku pada AL.
“ Ya iyalah ndut..” sosok yang kupanggil dengan nama AL, membalas pertanyaanku tanpa melupakan panggilan khusus untukku. Ndut. Yah, di bandingkan dengan tubuh AL yang seperti keripik cacing.
“ Lagian, AL kan mau beli bunga edelwies untuk "L".” Kali ini dia ucapkan namaku dengan benar.
-dalam hati senangnya-
Hujan belum juga reda, namun kapasitas nya sudah menurun. Kini hanya berwujud kecil-kecil.
Tiba-tiba AL menarik tanganku.
“ Ayo Ndut..kita naik ke atas..” ahh keluar lagi sebutan itu. Yang katanya adalah panggilan sayang untukku.
Tanpa bisa menolak aku ikutin saja langkah kakinya AL. Dan berusaha mensejajarkan langkahku agar bisa seirama dengannya.
Ahkirnya, tanpa harus berjalan terlalu jauh. Kami berhasil mendapatkan bunga itu. Bunga kering berwarna coklat.
“ Ndut, buat kamu.” Di serahkannya bunga itu begitu saja. Sikapnya kentara canggung.
Yah begitulah AL, sosok yang terlahir tanpa memiliki urat romantis. 
Ku tepikan motorku, ketika ku rasa getaran dalam saku celanaku. Nampak nomor Al muncul di layar.
“ L", sore ini Al mau ke Jakarta. Mau pergi demo. “ suaranya terdengar pasti.
“ Aksi lagi.” Tanyaku. –dalam hati muncul rasa tidak suka-
“ Iya, kami sudah menyepakati bahwa hari ini kami harus melakukan sebuah aksi, agar pemerintah tidak buta serta tuli pada nasih para petani.”
“ Mungkin sekitar semingguan Al stay di Jakarta.”
“ Wa, Al di mana sekarang, kita ketemuan.”
“ Masih di kost Ndut. Mau beres-beres.”
“ Ok..tunggu aku.”
Klik. Telpon ku tutup.
Aku dan Al. Kami sama-sama seorang aktivis. Namun Al selalu melakukan aksi yang berahkir dengan ricuh. Aksi yang menurutnya pantas bagi sebuah perjuangan. Sementara aku, lebih pada kelembutan, karena yang ku tangani adalah pemenuhan hak seorang anak dalam hal membaca.
“ Namanya perjuangan itu, selalu akan memakan korban.”
Sepenggal kalimat itulah yang selalu di tegaskan padaku, setiap kali aku mempertanyakan aksinya.
“ Al, tidak bisakah kau dan kalian beraksi damai, tanpa mengorbankan beberapa kepentingan. Seperti kepentingan kaum wanita dan anak-anak. Kasian mereka Wa. Pasti aksi yang terjadi meninggalkan efek psikologis dan trauma.”
“ Ga bisa "L", sebuah perjuangan itu pasti begitu. Aksi yang sudah terjadi membuktikan ketegasan pada apa yang kami perjuangankan.”
AL masih kukuh dengan pendapat bahwa aksi membutuhkan “ ketegasan”. Dan aku, bagiku sebuah aksi haruslah penuh kedamaian.
Perbedaan cara pandang dalam memaknai sebuah perjuangan, kerap memicu ego kami masing-masing. Bahkan tidak jarang, karena hal tersebut membuat kami bersikap seperti musuh. Saling membuang wajah ketika bertemu muka.
Padahal dalam hati, dalam pikiran. Tersimpan sejuta rindu.
"L" dan AL, menurut teman-teman adalah pasangan yang ideal. Pasangan yang saling melengkapi.
Satunya kurus, satunya gendut. Satunya doyan makan, satunya susah makan. Satunya ceria, satunya pemalu. Satunya doyan begadang, satunya doyan tidur. Itulah kami, di depan mata teman-teman.
Kalaupun ada kesamaan, salah satunya adalah kami sama-sama aktivis lembaga masyarakat. Tapi karena persamaan aktivitas inilah yang kerap kali membuat kami sering berada dalam zona negatif. Walau dalam konteks yang sama, tapipemahaman kami berbeda.
Ketika berada dalam zona negative tersebut, tanpa di sadari hal itu ternyata berpengaruh pada semangat kami berdua.
Hingga suatu hari, kami sepakat bertemu. Dan memutuskan untuk pisah.

AL dan "L" putus. Setelah 1 tahun bersama. Tentunya bukan hal mudah bagi kami menerima keputusan bersama ini, namun kami tidak ingin menjadi seorang “penjajah” cinta. Memaksakan suatu pemahaman atas nama cinta. Lebih baik kami mengalah dan memilih jalan masing-masing, karena kami menyadari bahwa dalam cinta, ada beberapa hal yang tidak bisa di paksakan.
________________________________________________________________
Cinta yang dewasa adalah dimana ketika terjadi perpisahan, kedua belah pihak bisa bertahan pada satu titik energi positif. Dan menyakini, bahwa inilah jalan terbaik bagi cinta itu sendiri.

Rabu, 15 Agustus 2012

Tentang Aku dan Kamu

Aku tidak pernah bisa memahami pendapat ini. Bagaimana mungkin?
Ketika pertama kali mataku dan matamu bertemu, adakah sesuatu di situ? Bagiku, tidak.
Cinta ku, cinta mu, mulai ada jauh setelah pertama kali mataku dan matamu bertemu.

Bukan, ini bukan tentang takdir. Bukan tentang kebetulan kita harus sekelompok, bukan tentang kebetulan kita bertabrakan, bukan tentang kebetulan kita bertemu. Ini hanya tentang aku dan kamu yang entah kenapa sudah saling tak bisa diam ketika sudut mata kita saling menemukan satu sama lain. Ini hanya tentang aku dan kamu yang dengan refleks menjadi lebih diam satu sama lain, kehilangan kata bahkan untuk mereka.

Aku dan kamu tak punya banyak kisah tentang cinta. Adakah cinta itu? Ah, aku tak tahu. Kuharap…

Aku dan kamu dipersatukan oleh hal – hal aneh. Ketika aku menolak, ketika aku berhenti berharap, tiba – tiba saja kamu muncul. Kamu? Apa yang kamu pikirkan?
Ketika aku dan kamu tanpa kata saling berkomunikasi, aku takut. Aku dan kamu? Lalu akan menjadi apa? Sudahkah?

Cinta ku, cinta mu, aku benar- benar takut. Cukupkah cinta ini? Siapkah cinta ini?
Ah, kamu… Sudah cukup aku tentang kamu. Aku dan kamu, kamu dan aku, …
Aku tak tau lagi akan menjadi apa..

Saat cinta ku, cinta mu, mengambang seperti ini, aku tak berharap ada tali penahan untuk menjaga jarak kita. Cukuplah aku tahu pernah ada kamu, dan cukuplah kamu tahu pernah ada aku.
Aku tak mau berjanji. Aku juga tak butuh janjimu. Bila aku dan kamu suatu saat bisa tak lagi menjadi aku dan kamu, saat itulah janjiku padamu, dan janjimu pada ku.
Sampai saat itu, aku adalah aku, kamu adalah kamu.

Selasa, 14 Agustus 2012

Di Atas Sejadah Mama


Malam menuju puncaknya semakin sepi. Sedang aku masih saja belum bisa tidur. Yaa Allah rasanya berat sekali memikirkan anak-anakku. Al mau menikah bulan November, sedang kakaknya masih belum mendapatkan kepastian dari Afdan.
“Mama…” Aku terkejut. Anakku Al rupanya sudah bangun. Mungkin untuk shalat malam karena saat ini sudah hampir jam tiga pagi.
“Iya nak, kamu ngagetin mama aja.” Jawabku dengan suara yang pelan takut Fakhri terbangunkan.
“Aku lihat mama masih di situ … aja dari semalam. Mama kenapa…”Aku memang sudah lama duduk bersimpuh di atas sejadah, bercerita kepadaNya tentang kegelisahanku. Jarum jam berdetak terdegar lebih kencang, Al mendekatiku lalu duduk di sampingku setelah mencium tanganku. Aku sangat merasakan manjanya anak ini. Tapi sekarang dia bukan lagi anak kecil, dia ingin segera menikah dan inilah yang membuaktku gelisah.
“Iya, nak, gak apa-apa. Mama senang berdialog denganNya, nak, semuanya terasa damai…” Aku menyembunyikan kegelisahanku dari anakku.
“Tapi aku melihat airmata di wajah mama, kenapa ma…” Aku hanya diam, dan Al kembali berbicara.
“Baiklah ma, aku mau ngambil wudhu dulu ya. Nanti aku mau sahur di masjid saja ya Ma, kang Indra sudah menunggu di sana.”
“Iya sayangku…” aku lalu membiarkan anakku pergi dari sampingku setelah kukecup keningnya dengan penuh kehatian. Al-quran yang sedari tadi terbuka, aku lalu melanjutkan membacanya dengan suara yang sangat pelan. Fakhri masih terlelap. Seolah tengah bermimpi indah. Masih kuingat pula keinginannya untuk menjadi anggota band di sekolahnya, walaupun hanya ingin jadi rapernya saja. Fakhri memang anak yang penuh mimpi dan cita-cita. Fakhri lalu aku bangunkan untuk sahur.
Waktu subuh datang, aku masih tersungkur dalam sujud yang panjang. Memohon kepadaNya untuk yang terbaik bagi suami dan anak-anakku dan bagi keluargaku semuanya. Aku tak ingin terbangun dulu sebelum airmataku membanjir di atas sejadahku. Inilah saat dimana aku merasa sangat dekat denganNya, benar-benar tanpa jarak dan hanya inilah satu-satunya cara untuk menenangkan hatiku.
Aku mendengar Al adzan Subuh dengan suara dan nada khasnya. Membuat aku semakin memikirkan anak itu. Aku bangun dari sujudku, tahiyyat lalu salam. Kupanggil Fakhri yang masih sibuk dengan buku bacaan nya untuk mengajaknya sholat berjama’ah. Kanza tidak ada di rumah. Ia sedang menginap di rumah Jingga untuk menemaninya. Maklum Jingga sedang berduka di hatinya oleh karena keretakkan rumahtangganya.
Fakhri lalu pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Aku menunggunya sembari mendirikan sholat sunat qobla subuh. Setelah Fakhri kembali dari kamar mandi lalu mengenakan kokonya dan menungguku selesai sholat sunat, Fakhri lalu berdiri dan membaca Iqomat. Sungguh teduh hati ini ketika mendengar si bungsu itu melantunkan Iqomatnya, Mama bangga padamu nak. Mataku menggenangkan keharuan yang mendalam.
Kami lalu sholat subuh berjama’ah, inilah yang membuatku bangga berada di rumah yang sejuk dengan kasih dan sayang ini. Namun tetap saja akan lebih indah jika suamiku ada di sini.
Pagi menjelang siang Kanza datang dari rumah Jingga. Aku berniat untuk langsung mengatakan kepadanya tentang permintaan Al yang ingin menikah di bulan November nanti. Aku harus segera menyampaikan keinginan adiknya supaya tidak terjadi salah paham di antara mereka. Kebetulan Al masih belum pulang dari sejak subuh tadi. Mungkin masih tadarus atau justru ketiduran di masjid.
“Sini Nak, Mama mau bilang sesuatu yang sangat penting kepadamu.” Kanza pun mendekat saat aku panggil. Aku sudah menunggunya di sofa ruang tamu.
“Ada apa, Ma…” aku membenahi posisi dudukku menatap Kanza yang duduk di sampingku.
“Begini Nak, kemarin Al bilang ke Mama bahwa dia ingin menikahi kekasihnya yang selama ini tak pernah dia ceritakan kepada kita.” Aku menjelaskannya dengan sangat hati-hati.
“Menikah?” Kanza terlihat kaget.
“Iya nak, perempuan kekasih Al itu namanya “L”. Dia anak perempuan desa sebelah.” Tambahku.
“Serius ma?”
“Iya, orang Al juga bicaranya dengan sangat serius.”
“Alhamdulillaah… aku ikut bahagia, mam, semoga itu memang jodoh yang terbaik buat Al.”
“Kamu tak mengapa jika Al harus melewatimu sayang?”
“Sumpah demi Tuhan aku tidak merasa marah apalagi tersinggung. Aku justru bahagia, Ma, gak apa-apa aku didahului. Itu kan sudah ditakdirkanNya dan memang sudah tertulis di lauhilmafudzNya sejak kita sebelum lahir kan?”
“Iya sayang. Tapi mama masih berharap semoga di antara Afdan segera menikahimu sebelum November nanti. Supaya kamu bisa duluan.”
“Aamiin, iya ma, doain aja ya.
“Jadi kamu gak apa-apa kalaupun harus didahului menikah oleh adikmu sayang?”
“Iya ma, gak apa-apa. Aku malah bahagia ternyata adikku sudah dewasa dan sudah bisa menentukan jalan hidupnya sendiri.”
“Terimakasih ya nak, kamu harus tetap begitu menjadi kakak yang bisa dibanggakan. Al pasti bahagia mendengar kamu yang menijinkannya dengan rela hati.” Setelah obrolan kami selesai, aku lalu pergi ke rumah Kerabat dekatku untuk membicarakan hal yang sama. Kanza tinggal di rumah untuk membereskan rumah.

Ma...Aku Mau Menikah

Pagi kembali menyapa lewat pendar cahaya berwara putih yang meyelusup diantara celah rimbun dedaunan. Harum aroma melati menyelusup lewat jendela kamar yang baru aku buka. Kuhirup nafas dengan rasa syukur. Betapa banyak bahkan tak terbilang bahagia yang telah diberikan-Nya bagi kami sekeluarga. Aku dan ketiga anakku, Kanza, Al, dan Fakhri.

“Assalamualaikum, Ma…” Suara salam serta ketukan di depan pintu kamarku.

“Wa’alaikumsalam, masuk” Anak laki-lakiku muncul di depan pintu.

“Ma, lagi sibuk gak?” aku hanya menjawab dengan gelengan kepala, sambilmeneruskan aktivitasku melipat selimut dan merapikan tempat tidur. “Ada apa?” tanyaku kemudian.

“Aku ingin bicara, ma” Ucapannya memaksaku untuk menghentikan kegiatanku merapikan kamar. Aku tatap matanya, lewat matanya aku dapat merasakan, dia memang sedang bersungguh-sungguh, berbeda dari kebiasaanya yang bicara ceplas ceplos, sedikit jahil, sedikit iseng.

“Memang mau ngomongin apa sih?”

“Ma, aku…..” anakku menghentikan ucapannya, aku tetap menunggu.

“Ma, aku ..aku…ingin menikah” Ucapannya kali ini betul-betul mengagetkanku. Bukan, bukan ucapannya yang salah, tapi aku yang salah, aku hampir lupa bahwa waktu telah menjadikan anakku tumbuh menjadi pemuda dewasa. Dalam benakku dia masih saja seperti saat-saat dia tertatih-tatih belajar berjalan, terbata-bata belajar bicara, ternyata kini anakku telah tumbuh dewasa.Tanpa kusadari sebutir bening menyeruak dari sudut mataku membuat pandanganku menjadi kabur.

Apa yang disampaikan anakku ini juga membuat aku bingung. Bagaimana tidak, kakak perempuannya belum menikah, laki-laki yang menjanjikan akan menikahinya belum juga memberi kepastian. Bagaimana aku harus menghadapi keadaan ini, permintaan anak laki-lakiku ini tidak mungkin aku tolak, sudah menjadi kewajiban orang tua untuk menikahkan anaknya ketika mereka sudah menginginkannya. Lalu bagaimaa aku harus menyampaikan hal ini kepada kakaknya, anak perempuanku yang pertama. Ternyata tidak mudah menghadapi ini sendiri, pikiranku tiba-tiba menjelajah jauh pada sosok yang sangat aku cintai, ayah mereka yang sedang bekerja di tempat yang sangat jauh. Jika dia ada di sini, tentu aku tidak harus kebingungan sendiri.

“Ma, kok ngelamun sih?”

“Eh.. gak apa-apa, mama hanya terkejut saja”

“Jadi bagaimana, ma?”

“Pada dasarnya mama tidak akan menolak kemauanmu, tapi ngomong-ngomong siapa gadis penakluk itu?”

“Namanya "L", Ma, tinggal di desa tetangga”

“Mengapa kamu ingin menikahinya?”

“Karena saya mencintainya?”

“Hatinya atau fisiknya?”

“Saya mencintai semua yang ada pada dirinya, hati maupun fisiknya”

“Termasuk kekuranganya?”

“Ya, semuanya!!!” Anakku menjawab dengan yakin.

“Al, Jika kau sudah mantap dengan pilihanmu, dan kau pun telah yakin akan mampu menjadi Imam bagi dirinya, mama pasti menyetujuinya?”

“Benar Ma?” Aku hanya mengangguk dengan tegas, memberikan keyakinan padanya tanpa perlu kata-kata.

“Rencananya kapan kalian akan menikah?”

“Insya Allah, bulan November, Ma”

“Secepat itu?”

“Memang kenapa, Ma?” Al terlihat cemas.

“Mama akan meminta Afdan untuk segera melamar kakakmu, kalau Afdan tidak siap juga, Mama akan terima lamaran Reisha”

Pagi semakin putih, Aku semakin resah…

Dear Mama


Mama,malam ini aku tidak bisa tidur, aku rindu pada suara bacaan Al-qur ‘an dan zikir-zikir yang selalu mama lantunkan disaat menjelang tidur , terutama di bulan ramadhan, mama selalu duduk disamping tempat tidur, sampai aku terlelap dalam mimpi indah sepanjang malam.
Mama...
Ini malam yang ke dua puluh lima Ramadhan , lima hari lagi lebaran idul fitri akan tiba, aku ingat biasanya mama, sudah mengajakku , untuk membeli baju baru bersama Kevin,Papa juga Echa.   kita akan berjalan bersama, sambil bergandengantangan kita menyusuri pusat perbelanjaan di Kota Bandung sampai Jakarta kalau perlu, tentu mama biasanya memilih tempat yang tidak terlalu ramai, karena mama pusing kalau tempat perbelanjaan yang penuh sesak.
Mama...
Tahukah Mama, sebentar lagi akan menjadi , seperti Mama bilang kalau sudah harus lebih rajin sholat seperti mama, menjadi dokter yang mengobati orang-orang sakit dengan ikhlas tanpa menetukan tarif nya kepada sang pasien apalagi kepada orang yang tidak mampu, mama selalu memberikan resep obat yang bisa dijangkau oleh sang pasien tanpa ada keinginan untuk ikut-ikutan memberikan obat-obatan mahal yang khasiat nya sebenar nya juga sama, semoga Abang bisa ya, Ma,Mama...
Kita sudah tidak pernah bertemu lagi sejak, setengah tahun ini puasa pertama  yang kita tidak bersama lagi, tapi rasanya mama selalu tetap ada di hati .
 Abang mengerti mengapa Mama pergi meninggalkan kami bertiga, karena Allah sangat sayang kepada Mama itu adalah jalan yang terbaik, agar mama terlepas dari penderitaan yang selama ini Mama rasakan , ternyata Mama sudah menyimpan rasa sakit disekujur tubuh Mama selama bertahun tahun sejak dokter mengatakan, mama menderita penyakit itu, tanpa sengaja Abang, membaca tulisan Bunda Afni saudara mama yang sangat sayang kepada mama, menulis cerita tentang Mama yang berjudul “ Saat Malaikat Datang Menyapa” karena Bunda Afni juga ikut menjaga di saat-saat Mama sangat menderita,Abang menangis ma, ternyata Mama selalu menutupi rasa sakit yang sangat dalam,dan terus bertahan agar mama tetap semangat mendampingi hari hari indah terakhir bersama kami bertiga, seandai nya Abang tahu saat itu kalau sakit itu sudah menggrogoti mama, mungkin tidak satu hari pun Abang membuat mama bersedih, maafkan Abang ma...
Mama...
Ini bulan Rhamadhan kedua tanpa papa, dan Ramadhan pertama tanpa mama tapi mama jangan bersedih ya , karena Abang masih punya saudara-saudara tersayang mama, yang selalu memberi semangat untuk Abang,Kakak dan juga Adek  yang selalu menyanyangi kami dengan sepenuh hati, mereka juga sudah membelikan baju lebaran walau mama tidak bisa bersama kami lagi, tapi kasih sayang sudah cukup bagi kami. Ya Terlebih ada “L” :’) Bawelan nya sudah cukup buat rame telinga abang :-) ya Seperti yang pernah Mama katakan “Jagalah selalu tali persaudaraan, sama saudara –saudara, dan sahabat-sahabat Mama , anggaplah mereka sebagai pengganti Mama juga.” Nasehat Mama selalu tersimpan dihati dan akan Abang, amalkan. Seluruh nama saudara-saudara juga sahabat-sahabat Mama terbaik, sudah Abang tulis dibuku catatan karena kalau tidak ditulis takut lupa,Selamat malam ya ma, semoga nanti kita bertemu lagi di surga yang pernah Allah janjikan luasnya seluasa langit dan bumi kepada hamba-hambanya yang sabar dan ikhlas dengan segala cobaan yang Allah berikan . Aamiin.


Sabtu, 11 Agustus 2012

Jadikan aku teman, kekasih dan apapun yang kau inginkan.

Suatu keadaan yang menghepaskan kegalauan
Menghiasi hari-hari
Kurasakan jiwaku berada di sana.
Dalam mata dan pikiran terpenjara
Kaupun berada diantara runtuhnya asa
Kau tidak begitu jauh namun tak mampu kuraih
Andai aku mampu memegang tanganmu
Kugenggam erat dan hangat jemari itu
Dan kubisikkan untaian kata di telingamu
Dan kuungkapkan rasa ini padamu
Aku akan menjadi angin sepoi-sepoi,
Yang berhembus menyegarkan seakan membelai wajahmu
Jika kau mencari cahaya Kristal bintang-bintang
Aku bahkan menjadi bulan dan cahayaku akan menerangimu.
Jika kau merebahkan tubuhmu,
Aku akan menjadi rumput lembut,
Yang menghangatkan seakan dalam pelukan
Jika kau merasakan panas dan kekeringan,
Aku akan menjadi hujan yang membasahi hatimu
Meneteskan air dingin di dahi seakan menciummu.
Jika kau dalam kegelapan batinmu
Aku akan menjadi matahari,
Dan tersenyum bagai dian menerangi sanubari
jika kau merasa sendiri
Jika kau membutuhkan teman
Jika kau mengharapkan kasih sayang
Jika kau menginginkan kehadiran cinta
Maka biarkan aku menjadi teman, kekasih dan apapun yang kau inginkan.

Jumat, 10 Agustus 2012

Bukan Hak ku Mencintaimu

Dengan sendirinya aku melenggokan jemari. Untuk apa sebenarnya mencari yang tidak perlu ku ketahui lebih rinci. Aku juga bingung sendiri. Sampai detik ini aku belum sempat ganti. 
Click!
Aku menemukanmu di dunia maya, tidak banyak. Bahkan hampir tidak ada. Tapi siapa sangka itu membuatku nyaris menghentikan detak jantungku. Aku terus mencari tahu siapa kamu, walaupun sepertinya kamu bukan yang suka mengumbar identitas di tempat umum. Aku mencuri fotomu, maaf, bukan tindakan etis tapi apa salahnya? Masukkan saja namaku dalam daftar pengagum rahasiamu.
Aku tidak begitu peduli pada status “berpacaran” yang sepertinya baru saja kamu pajang. Tapi siapa laki-laki itu? Ah, sudah. Bukan urusanku memasuki sekitaranmu jauh lebih dari ini. Mengenalmu saja sudah membuatku sedikit tenang. Apalagi disuguhi senyum dan tatapan mata sayumu. Membuatku jadi tambah penasaran. Lagi-lagi siapa sebenarnya kamu?
Aku tidak sedang berangan menjadi yang saling melekatkan jari kelingking. Aku hanya mengungkap rasa yang mulai mengendap diam-diam. Jangan sampai jadi berlebihan. Sebenarnya aku takut ketahuan, kalau-kalau  ternyata kamu "L". Menyadari ada yang mencuri-curi. Maaf, hanya sedikit saja mengintip. Aku hanya suka merasakan keramahan. Dan kamu memberikan ketenangan, membuat tempat duduk ku jadi sedikit lebih nyaman.

Apa-apaan ini? Aku jadi lesu tanpa kamu. Aku jadi kehilangan nafsu. Aku juga tidak tahu mengapa jadi rindu. Kenapa tiba-tiba jadi menggebu-gebu? Atau aku yang terlalu ingin mengenalmu? Bisa kah menunggu ku?  Ah, aku lupa. Aku bukan tujuanmu. Aku ini siapa? Aku bukan yang pandai menyapamu. Bukan yang jago merayu. Sudah cukup aku tak ingin jatuh pada yang bukan hak ku.
Cukup tahu siapa kamu, walaupun jujur saja sebenarnya aku ingin yang lebih dari itu. Tapi mungkin lebih baik aku berhenti mencarimu "L" Cukup ku katakan dari jauh, cukup izinkan aku mencintaimu dengan caraku terimakasih :'-(

Teruntuk, Bunda nya Alif...


Baru ku sadari begitu istimewanya dirimu, entah kekuatan apa yang ada di jiwamu, setiap saat tidak lepas tangan dan pikiranmu memikirkannya, tidak ada waktu bagimu tuk berpaling dari dia. tidak ada kata bosan kau ucapkan untuk mengurus makhluk kecil yang sering pipis dipangkuanmu, mengganggumu ketika makan saat pampers-nya musti diganti …. entahlah…. mungkin statusmu yang membuat kau menjadi perempuan yang tangguh.
Masih ingat dipikiran, pertama kali kau terkejut ketika kukenalkan namanya kompor minyak, tanganmu yang terbiasa dengan kompor gas, membuatmu bertanya-tanya dan seringkali berkata “hari ini masih pakai kompor minyak? disertai tawamu yang kecil”. ku tau kau baru belajar mandiri, sejak ku minta kau dari ibumu, semua yang biasanya dilayani, sekarang berubah, kau yang melayani ….namun, keluhan-keluhanmu  kau gantikan dengan masakan-masakan yang bagiku begitu istimewa. ….
Teringat jelas dimataku, airmata yang mengalir deras membasahi pipimu, saat kau mulai beranjak dari rumah tempat  selama ini kau dibesarkan, menuju ratusan kilometera jauhnya ke kota yang kurang begitu familiar dikepalamu. Menumpukan semuanya kepadaku, mempercayakan dirimu padaku….. tapi kau bisa..
Ketika kau tidur, seringkali ku lihat wajahmu yang lelah setelah seharian mengurus rumah dan dia. Kau..perempuan yang pertama membuatku benar-benar jatuh cinta, kau…. perempuan pertama yang memberikanku keyakinan atas keputusanku…. dan perlu kau tau…. kau adalah perempuan pertama yang duduk di sepeda onthel tuaku saat kuliah dulu….
Kekuatan terbesarmu adalah menangis, dan kelemahan terbesarku adalah tangisanmu…. darimu kubelajar arti hidup ini, dari dirimu ku belajar tanggung jawab, dan dari dirimu ku belajar bersabar… tawa dan senyummu yang membuatku semangat dalam menuju masa depan yang belum pasti….
Ku akui, keputusan terbaik yang pernah ku buat adalah  ketika ku pakaikan cincin emas ke jari manismu saat itu….
Teruntuk Bunda dari anakku…. bersabarlah selalu atas diriku dan dia,

Selamat Datang,Sayang.


Malam itu, Ada perasaan yang berbeda saat ayah berada dalam perjalanan bus kali ini ketika menuju kampung halaman tercinta, perasaan cemas yang dulu pernah datang yang susah untuk diungkapkan. Perasaan yang sangat ingin mengetahui takdir yang akan diberikan Tuhan sebentar lagi. Ada rasa ingin tahu yang besar melihat seperti apa calon penurus hidup ayah kelak, dimana sebelumnya hanya bisa ayah belai melalui perut ibu mu saja, tapi kini engkau akan hadir didunia nyata.. tapi terselip rasa cemas membayangkan perjuangan ibumu mempertaruhkan nyawa agar engkau bisa hadir dimuka bumi Allah ini. saat itu ingin rasanya segera hadir disana, terbayang di kepala seandainya ada penerbangan langsung mungkin ayahmu bisa berada disamping ibumu memberi semangat melewati detik-detik menegangkan seumur hayat.

Sudah empat hari engkau melewati prediksi yang diperkirakan dokter mengenai waktu kelahiranmu, hampir semua keluarga besar kita mencemaskan keadaanmu di dalam kandungan serta kesehatan ibumu, hasil pemeriksaan engkau baik-baik saja didalam kandungan walaupun air ketuban cuma pas-pasan, akhirnya dokter berkesimpulan agar engkau dirangsang untuk keluar. Pada jam delapan malam setelah ibu berbuka puasa engkau pun dirangsang untuk keluar dan delapan jam kemudian engkau pun hadir didunia fana ini melalui persalinan normal. Alhamdulillah semua berjalan lancar, mungkin engkau ingin mengurangi beban ibu yang walaupun mengandungmu sembilan bulan tapi tetap menjalankan puasa tanpa satu hari pun yang tinggal. Agar tidak terlalu banyak puasa yang diganti nantinya begitu alasan ibumu ketika ayah menanyakan mengenai hal itu.

Teh Kanza lah yang memberi kabar bahwa engkau telah ada didunia ini. Tak terasa betapa senangnya ayah menyambut kehadiranmu, sujud syukur pun tak lupa kepada Ilahi karena memudahkan semua proses ini, pikiran yang tadinya tak menentu pun akhirnya sirna berganti kabar bahagia. Melihatmu untuk pertama kali seperti sejuk hati ini apalagi ketika engkau yang begitu lahap menyusui didalam dekapan ibu.
Engkau lahir 2 jam sebelum ayah sampai ke rumah sakit, eyang mu lah yang memperoleh kehormatan untuk mengadzankanmu untuk pertama kalinya,semoga apa yang diperdengarkan oleh eyangmu terekam didalam ingatan pertamamu dan selalu ada didalam alam bawah sadarmu agar ia menjadi tuntunan dalam menjalani hidup di bumi Allah ini.
Engkau lahir bertepatan dengan 10 Ramadhan 1433H pukul 04.00WIB. disaat ummat islam sedang menikmati makan sahur engkau hadir didunia, semoga kelahiranmu dibulan yang penuh berkah ini, demikian juga keberkahan dan kebaikan selalu menyertai dan menaungi kehidupanmu kelak dimasa yang akan datang.
Selamat datang ke dunia nak..
Mungkin hidup didunia fana ini tidak senyaman didalam rahim ibumu, tapi inilah suratan hidup yang harus engkau lalui, akan banyak cobaan dan rintangan didepan yang akan menghalangimu, hidup kadang tidak hanya ada hitam dan putih, kadang berwarna abu-abu yang membuat kita bingung dalam mengambil keputusan.
Tapi janganlah takut..
Berdua kami akan membimbingmu melewati itu semua seperti yang diajarkan Almarhum ke dua eyangmu kepada ayah dahulu semasa hidupnya. Ingatlah selalu pemilikmu yang sesungguhnya lima waktu disetiap hari, karena hanya dengan kehendak-Nya kamu bisa hadir didunia ini, IsyaAllah jika firman-Nya selalu engkau taati, disurgalah tempat kekalmu abadi..
ayah hanya ingin kelak kau menjadi anak shaleh yg rendah hati. Tak apa kau kelak menjadi petani biasa, tak masalah pula kau kelak menjadi pemimpin hebat dengan amanah yang besar. Tapi tetaplah menjadi petani yg shaleh,tetaplah pula menjadi pemimpin yang rendah hati. Dan dalam kesholehan dan kerendah hatianmu itu,teruslah berdoa untukku dan jg ibumu yg telah dengan susah payah melahirkanmu. Doamu akan selalu kami tunggu untuk keberkahan hidup yang kami jalani sampai kami menempati ruang sepi dalam kamar sayang . 

Kamis, 02 Agustus 2012

Kebahagianku Kamu !


Ditulis untuk kamu yang setiap hari menjadi donatur kebahagiaanku
selamat malam,
apa kabar kamu hey penguasa hatiku? semoga kamu senantiasa dicurahkan kebahagiaan oleh Tuhan
pada kesempatan kali ini, aku gak mau nulis panjang-panjang kok.
aku cuma ingin sekedar berterimakasih atas rasa sayangmu dan kesetiaanmu kepadaku selama ini.
sebelum memulai pembicaraan, aku punya cuplikan lirik First Lovenya Utada Hikaru, spesial buat kamu :’)
You will always be inside my heart
Itsumo anata dake no basho ga aru kara
I hope that I have a place in your heart too
Now and forever you are still the one
Ima wa mada kanashii love song
Atarashii uta utaeru made

You are always gonna be my love
Itsuka dareka to mata koi ni ochitemo
I’ll remember to love
You taught me how
You are always gonna be the one
Mada kanashii love song
Now and forever
yaa, mungkin itulah lagu yang bisa mewakili perasaanku saat ini.
aku sangat ingat pernyataanmu lewat pesan pendek beberapa hari yang lalu, “aku bukan perempuan yang baik, tapi aku bisa mencintaimu dengan cara yang baik.” kata-kata itulah yang sampai detik ini masih terngiang di telingaku sampai detik ini.
You are always gonna be my love….
oh..yaa tau gak? kamu itu ISTIMEWA!
kamu bisa bener-bener merubah aku yang awalnya kepala batu, keras kepala dan semaunya sendiri menjadi pribadi yang tidak lagi mementingkan perasaanku semata.
yaa kamu harus tau itu. entah kenapa seolah-olah ada magnet tersendiri pada dirimu yang benar-benar memaksaku membuang jauh-jauh sifaktu itu..
aku juga sangat terkesan pada perhatian yang kamu berikan kepadaku. kamu itu dasarnya cuek. cuek banget.
perhatian kecilmu, “jangan telat makan, jangan lupa pakek jaketnya, jaga kesehatan” mungkin terdengar biasa bagi siapa saja bagi yang mendengarkan. tapi tidak bagiku. aku merasa menjadi laki-laki paling istimewa ketika kau mengatakannya.
mengapa aku merasa demikian? ternyata dibalik sifat acuhmu itu  masih ada setangkup perhatian buat aku..
sekian dulu yaa tulisan dari aku.
semoga tulisanku ini bisa menjad pemanis buat hubungan kita.