Hai sayang, selamat malam :-) malam ini aku kembali menulis di blog yang sudah lama aku tinggal karna tugas negara a.k.a KOAS ku :-).
adalah kamu seseorang yang slalu memberi inspirasi untuk aku terus dan terus menulis tentang segala hal KAULAH 'L' ku.
Adalah kamu...seseorang yang membuatku merasa menjadi orang yang paling bahagia hari ini, sampai hari ini aku menemukan jawaban atas semua perjalanan kehidupan ini. Barang kali saat ini almarhum papa dan mama tersenyum-senyum melihat tingkah kita.
Dulu suatu hari pada saat kita bertemu, tepat di hari dan tempat yang sama. Hanya saja dulu kita belum saling mengenal satu dan lain nya. Kita mentertawakan bagian hidup kita yang terurai panjang sekali. Mulai dari pertemuan,pertemanan,lingkungan kita hanya saja dulu kita belum saling menngenal.
Kita tertegun pada pertemuan kita yang tidak pernah terduga sebelumnya, kita juga tersipu-sipu malu kala mengingat cara kita di pertemukan. Tak ada dari kita yang menduga bahwa pertemuan itu membuat rencana hidup jangka panjang kita berubah, dan kita dengan bahagia mengubahnya. Kita mendiskusikan banyak hal dan menyelaraskan pandangan. Kita tertawa mengapa kita tidak bertemu sejak dulu saja ? sedang kita slalu berada sangat dekat ? . Kita bertemu selalu di saat hujan dan pada akhirnya berbasah bersama.
Kau lah orang yang TEPAT !!!! sampai tiba di hari akad. Kau yang mambuat ku tertarik, kau juga yang membuat aku betah untuk tinggal berlama-lama di hatimu. Lebih dari itu kau yang mampu menerima ku yang hanya serba cukup. You Are MINE ! 'L'.
Al-Fahrezi Dinata
Enam November, akan selalu datang,untukmu,untukku,selalu indah dinanti,bukan untuk dikenang,tapi untuk menjaga rindu,yang terlukis indah,dan tak pernah goyah,selamanya.The “yes, i do” journey. For the sake of cherishing every moment, here i am writing the process of planning my wedding day and also the life after the big day. So, one day i could look back and be grateful even more because of what i’ve been through and be reminded of His abundant blessing in my life ♥ For Miss Leni Fahrezi ♥
Rabu, 10 Desember 2014
Senin, 24 Maret 2014
Jika Pasanganmu adalah Seorang Dokter. . . . . .
Ketika seseorang memilih untuk menginjakkan kaki di dunia kesehatan, maka dia telah menyerahkan sebagian besar hidupnya kepada masyarakat. Hanya sebagian kecil darinya yang dia ditinggalkan untuk keluarga, bahkan untuk dirinya sendiri.
Waktunya akan lebih banyak dihabiskan untuk orang lain daripada untukmu sebagai istrinya atau anak-anak. Pikiran dan tenaganya akan tercurah kepada orang-orang asing yang mungkin tidak akan mengingatnya dalam setiap doa, tidak sepertimu atau orang tuanya.
Kamu tahu? Dia akan lebih sering di rumah sakit daripada di rumahmu sendiri. Itu
bukan karena dia menyukai rumah sakit. Rumahmu tetaplah tempat yang
membayang di pelupuk matanya setiap detik dia di rumah sakit. Karena
rumah sakit adalah tempat yang penuh tekanan. Jika kamu
bukan tenaga kesehatan, maka tidak akan terbayangkan seperti apa
rasanya hidup di sana. Jangan heran jika seringkali mereka menyebutnya
“rimba raya”.
Maka ketika dia terlihat dingin dan lelah, peluklah. Peluk sampai ke dalam lubuk hatinya. Karena kamu mungkin tidak tahu
bahwa pasiennya baru saja meninggal dunia, atau seniornya baru saja
memarahi dan menghukumnya, atau ada pasien yang menyalahkan terapi yang
dia berikan, atau rekan kerjanya yang tidak bisa diajak bekerja sama. Dengarkan ceritanya dengan sabar. Jangan lupa ceritakan juga harimu padanya. Tawarkanlah untuk berdiskusi, karena kamu lebih dia percaya daripada siapapun di dunia.
Jika kamu menikahi
seorang dokter, jangan memiliki persepsi yang sama seperti kebanyakan
orang, bahwa dokter pasti kaya secara materi. Sama seperti yang lain,
dia akan mendaki dari bawah. Bahkan jam kerjanya di awal pendakian itu
lebih banyak daripada profesi lain dengan imbalan yang pas-pasan. Tetaplah di sisinya, sama seperti dia yang selalu berusaha ada di sisimu.
Tetapi, sebanyak apapun pasiennya, kamu dan kaluarga tetap menjadi prioritasnya.
Dia akan menganggap dirinya sendiri sebagai dokter pribadimu. Dia akan
sangat kritis terhadap apapun mengenai dirimu yang terkait dengan
kesehatan, baik jasmani maupun rohani. Mungkin akan terdengar bawel,
tapi itu adalah bentuk perhatiannya.
Seorang dokter akan sangat perhatian kepada orang lain, tetapi tidak kepada dirinya sendiri. Maka tidak jarang kamu mendengar
ironi tentang seorang dokter meninggal dunia karena penyakit yang
sebetulnya sering ditanganinya. Dia akan mendengarkan keluhan orang lain
tapi mengabaikan keluhannya sendiri. Siklus makannya akan berantakan,
begitu juga dengan waktu tidur yang jumlahnya dalam jam bisa dihitung
dengan satu tangan saja. Maka jadilah satu-satunya yang memperhatikan
dia. Ingatkan untuk makan dan shalat, atau jika tidak sama sibuknya,
bawakan makanan saat dia jaga malam. Kehadiranmu akan lebih
menyenangkannya daripada makanan itu sendiri.
Jika suami/istrimu seorang dokter, siapkah kau membaginya dengan orang lain?
#KurniawanGunadi
#KurniawanGunadi
Minggu, 16 Maret 2014
Bidadari Ku. . .
Istriku.....
Aku nikahi dirimu karna, aku yakin dan percaya bahwa engkau bisa menjadi penghubung antara aku dengan Tuhanku. Dan aku yakin ketika, engkau menerima diri ini engkaupun percaya bahwa diri ini bukan hanya sekedar menjadi suami.
Tapi juga bisa menjadi imam, yang menunjukkan jalan yang baik dunia juga akhirat.
Ha...ha...ha... :-) Dalam kehidupan dunia selalu ada cerita. Yang terkadang cerita itu menghenyakkan hati, dan terkadang cerita itu membuat diri ini bahagia serta gembira.
Ada kalanya itu datang dari diriku, dan ada kalanya itu juga datang dari dirimu pula.
Tidak ada hal yang bisa menyelamatkan kita berdua, kecuali kita saling memahami, mengerti, tugas dan peran kita masing-masing sesuai dengan petunjuk Allah, bukan sesuai dengan petunjuk ego kita masing-masing.
Tak ada yang sempurna dari diri ini dan tak ada yang sempurna dari dirimu pula...Maka mintalah kepada Allah atas segala apa yang pernah terjadi dalam kehidupan kita. Minta... ! minta Allah mengajarkan kepada kita bagaimana kita bisa mencintai kekurangan satu sama lain, bukan mencintai kelebihan satu sama lain. Karna ternyata toh, kita merasakan bahwa yang sering menjadi masalah adalah kekurangan bukan kelebihan.
Engkau do'a kan saja diriku dan aku pun juga akan doakan dirimu
Lalu kita berdua berdo'a semoga Allah SWT menyelamatkan kita, hati kita, niat kita, dan kita berharap bahwa kita bukan hanya bersama-sama di dunia ini tapi, juga kita akan bersama-sama di akhirat.
Allah jadikan engkau bidadariku bukan hanya bidadari di dunia.....
Tapi juga Allah jadikan engkau bidadari surga ku.......'L'.
Kamis, 28 November 2013
SELAMAT ULANG TAHUN 'L'
Bagaimana aku tidak bahagia... Aku mencintaimu, Kamu mencintaiku...
Kita tahu bahwa kita saling mencintai.....
Bahkan tanpa itu harus terucap kita mengetahui nya dari hangatnya pelukkan, dari tajamnya tatapan, dari renyahnya tawa, dari basahnya keringat, dan bahkan derasnya air mata. Tetapi puji syukur kepada Tuhan sebagai yang empunya Kasih, bahwa kita di beri kesempatan untuk jujur, percaya dan yakin bahwa cinta itu ada dan bukan untuk disia-siakan. Cinta tlah menjelma menjadi nyawa di dalam kata-kata. Sehingga apa yang aku tulis dan ucapkan telah memberikan kesejukan bagi telingamu yang mendengarnya bagi pikiranmu yang di warnainya bagi hatimu yang di sentuhnya dan bagi hidupmu yang dipenuhinya.
Terimakasih....terimakasih....karna kau tlah mau aku bahagiakan dengan kesederhanaan yang penuh syukur ini, apapun untuk senyummu.... apapun....
maka sayangku jantung di jari jemariku...dengarlah apa yang aku katakan ini.
Bahwa tidak ada yang memalukan dari apa yang Tuhan berikan termasuk hari ini 29 november 2013 SELAMAT ULANG TAHUN selamat bertumbuh, berkembang, bersyukur dan memperbaiki, yang di dalam tuhan mencintaimu AKU.
Kita tahu bahwa kita saling mencintai.....
Bahkan tanpa itu harus terucap kita mengetahui nya dari hangatnya pelukkan, dari tajamnya tatapan, dari renyahnya tawa, dari basahnya keringat, dan bahkan derasnya air mata. Tetapi puji syukur kepada Tuhan sebagai yang empunya Kasih, bahwa kita di beri kesempatan untuk jujur, percaya dan yakin bahwa cinta itu ada dan bukan untuk disia-siakan. Cinta tlah menjelma menjadi nyawa di dalam kata-kata. Sehingga apa yang aku tulis dan ucapkan telah memberikan kesejukan bagi telingamu yang mendengarnya bagi pikiranmu yang di warnainya bagi hatimu yang di sentuhnya dan bagi hidupmu yang dipenuhinya.
Terimakasih....terimakasih....karna kau tlah mau aku bahagiakan dengan kesederhanaan yang penuh syukur ini, apapun untuk senyummu.... apapun....
maka sayangku jantung di jari jemariku...dengarlah apa yang aku katakan ini.
Bahwa tidak ada yang memalukan dari apa yang Tuhan berikan termasuk hari ini 29 november 2013 SELAMAT ULANG TAHUN selamat bertumbuh, berkembang, bersyukur dan memperbaiki, yang di dalam tuhan mencintaimu AKU.
Jumat, 22 November 2013
Untuk Ayah #1
Air mata ini, air mata kerinduanku padamu Ayah.
Aku tidak pernah mempersiapkannya bahkan aku sudah melupakannya dan meyakini tidak akan ada lagi air mata tahun ini.
Tapi hatiku tetap milikmu, rinduku tetap nyata untukmu dan cintaku tak akan pernah habis untuk mu, bahkan air mata yang tanpa aba dan aku tak tahu cara menghentikannya pun bukan berisi tetes penyesalan, tapi tiap bulirnya berisi betapa ayah adalah nyata dan kita pernah bersama dan kita saling mencinta.
Aku ingin berderai aku ingin memeluk, tapi mengapa di tempat ini, ditempat yang seharusnya aku bisa membuat sunging senyum dan tawa riuh ketika semua orang dirumah sibuk bersiap keluar rumah mengawali aktifitas mereka masing-masing. Dengan semangat dan cerianya, ayahku, hari itu mengawali hari nya seperti biasa. saat jam kuliah sudah usai aku mendapat berita ternyata ada jadwal kuliah tambahan, aku mengikuti kelas itu. Kelas usai, aku dan seorang teman segera pulang tanpa terpikir hari itu untuk keluyuran.
Pertengahan jalan, disela-sela cerita canda aku dan temanku, telepon gengamku berbunyi, Ibu.
“Dimana, bang ?”
“Dijalan, kenapa?”
“Ntar langsung ke rumah sakit pasar ya Papa jatuh.”
DAMN!!! ‘Semoga gw salah denger, semoga bukan bapak gua, atau kalau pun bener smoga jatuh biasa.’ hanya itu yang bergumam dalam hatiku semenjak sesuai mendapat telepon dan sepanjang perjalanan, sampai di depan pintu kamar UGD.
Ayahku terkapar, muntah-muntah, dengan mata yang tertutup. Aku bingung. Tidak mengerti harus bagaimana. Laki-laki tampan dan gagah itu, yang hidup dengan fisiknya yang kuat, yang mandiri, dan bisa segalanya terdengar mengerang, gerang kesakitan. Gerangan itu, sewaktu di pasang alat bantu saluran pembuangan urine dan alat bantu nafas di tenggorokannya, begitu menyakitkan, buatku melihat sosok kekuatannya mengerang, rasanya ingin aku menghampiri dan melepaskan semua alat itu, tapi aku tahu itu bukan sebuah solusi. Aku terdiam, aku menghindari tempat itu, menghindari sakit yang kurasa dengan apa yang kulihat dan kudengar.
Saudara-saudara sekandungku datang satu per satu mendatangi kamar ayah. Entah apa yang terjadi malam itu, aku memilih pulang ke rumah. Dan esok harinya aku menemukan ayah sudah di dalam kamar.
Semua usai, waktuku memiliki kebersamaan dengan seorang Ayah sudah usai.....
Aku tidak pernah mempersiapkannya bahkan aku sudah melupakannya dan meyakini tidak akan ada lagi air mata tahun ini.
Tapi hatiku tetap milikmu, rinduku tetap nyata untukmu dan cintaku tak akan pernah habis untuk mu, bahkan air mata yang tanpa aba dan aku tak tahu cara menghentikannya pun bukan berisi tetes penyesalan, tapi tiap bulirnya berisi betapa ayah adalah nyata dan kita pernah bersama dan kita saling mencinta.
Aku ingin berderai aku ingin memeluk, tapi mengapa di tempat ini, ditempat yang seharusnya aku bisa membuat sunging senyum dan tawa riuh ketika semua orang dirumah sibuk bersiap keluar rumah mengawali aktifitas mereka masing-masing. Dengan semangat dan cerianya, ayahku, hari itu mengawali hari nya seperti biasa. saat jam kuliah sudah usai aku mendapat berita ternyata ada jadwal kuliah tambahan, aku mengikuti kelas itu. Kelas usai, aku dan seorang teman segera pulang tanpa terpikir hari itu untuk keluyuran.
Pertengahan jalan, disela-sela cerita canda aku dan temanku, telepon gengamku berbunyi, Ibu.
“Dimana, bang ?”
“Dijalan, kenapa?”
“Ntar langsung ke rumah sakit pasar ya Papa jatuh.”
DAMN!!! ‘Semoga gw salah denger, semoga bukan bapak gua, atau kalau pun bener smoga jatuh biasa.’ hanya itu yang bergumam dalam hatiku semenjak sesuai mendapat telepon dan sepanjang perjalanan, sampai di depan pintu kamar UGD.
Ayahku terkapar, muntah-muntah, dengan mata yang tertutup. Aku bingung. Tidak mengerti harus bagaimana. Laki-laki tampan dan gagah itu, yang hidup dengan fisiknya yang kuat, yang mandiri, dan bisa segalanya terdengar mengerang, gerang kesakitan. Gerangan itu, sewaktu di pasang alat bantu saluran pembuangan urine dan alat bantu nafas di tenggorokannya, begitu menyakitkan, buatku melihat sosok kekuatannya mengerang, rasanya ingin aku menghampiri dan melepaskan semua alat itu, tapi aku tahu itu bukan sebuah solusi. Aku terdiam, aku menghindari tempat itu, menghindari sakit yang kurasa dengan apa yang kulihat dan kudengar.
Saudara-saudara sekandungku datang satu per satu mendatangi kamar ayah. Entah apa yang terjadi malam itu, aku memilih pulang ke rumah. Dan esok harinya aku menemukan ayah sudah di dalam kamar.
Pagi menjelang siang, aku dan kakaku diantar seorang perawat menuju ruangan dokter yang menangani Ayah, sedangkan Ibu, dia tinggal dikamar karena dia sudah lebih dulu berkomunikasi dengan dokter tersebut.
“…Kalau pun dioperasi, kemungkinannya hanya 20:80, hanya mukjizat yang bisa menyelamatkannya, karena……”
Kami diam mendengarkannya, sambil saling berpegangan tangan, mengucapkan terima kasih dan berpamitan untuk kembali keruangan Ayah. Bberjalan kembali ke kamar rawat, tidak sampai 10 menit tapi terasa jauh dan lama sekali, dalam hening, dalam sendu. Masih dalam bisu kami memasuki kamar rawat Ayah, sampai tiba di sisi pembaringannya dan tangis kami pun berderai tak beraturan, kami berbicara saling beradu masing-masing, entah bisakah didengar atau tidak oleh Ayah yang sudah 3 hari menutup matanya, satu hal yang ku ingat bahwa Ayah selalu ingat ulang tahunku, selalu…. tak pernah lupa untuk mengucapinya dan memberikan ku kado sederhana. Ayah tidak bisa membuka matanya ataupun bersuara tapi dia menangis, dia menangis bersama anak-anaknya. Ayah mendengarkan kami dan dia mengeluarkan bulir airmatanya yang begitu besar. Ayahku menangis, ayahku menangis karena hasrat yang sama dengan anak-anaknya.
“…Kalau pun dioperasi, kemungkinannya hanya 20:80, hanya mukjizat yang bisa menyelamatkannya, karena……”
Kami diam mendengarkannya, sambil saling berpegangan tangan, mengucapkan terima kasih dan berpamitan untuk kembali keruangan Ayah. Bberjalan kembali ke kamar rawat, tidak sampai 10 menit tapi terasa jauh dan lama sekali, dalam hening, dalam sendu. Masih dalam bisu kami memasuki kamar rawat Ayah, sampai tiba di sisi pembaringannya dan tangis kami pun berderai tak beraturan, kami berbicara saling beradu masing-masing, entah bisakah didengar atau tidak oleh Ayah yang sudah 3 hari menutup matanya, satu hal yang ku ingat bahwa Ayah selalu ingat ulang tahunku, selalu…. tak pernah lupa untuk mengucapinya dan memberikan ku kado sederhana. Ayah tidak bisa membuka matanya ataupun bersuara tapi dia menangis, dia menangis bersama anak-anaknya. Ayah mendengarkan kami dan dia mengeluarkan bulir airmatanya yang begitu besar. Ayahku menangis, ayahku menangis karena hasrat yang sama dengan anak-anaknya.
Suasana yang tadinya sudah hening, tenang tanpa beradu tangis kembali memecah keheningan siang itu. Ayah yang tadi nafasnya sudah agak baik mendadak “rusak” lagi, dengusannya sangat kencang terdengar, saudara-saudara dari keluarga berdatangan, teman-teman kerja Ayah dan Ibu pun datang. Semua langsung lari mendekat sewaktu melihat kami keluarganya ramai berdoa dan bertangis. Ruangan yang besar itu menjadi sempit dengan kedatangan semua tamu yang hendak mengunjungi Ayah dan kami keluarganya.
Tidak lama, Ayah pun pergi diiringi doa dan tangis serta hati orang-orang yang ada disekelilingnya saat itu Ibu duduk lemas sambil menangis entah berbicara apa, yang ku dengar dia memanggil “Paaa’ jangan pergi…” Sedangkan Kakak perempuan pertamaku terjatuh, terkulai lemah. Aku bingung, apa yang harus aku lakukan saat itu. Pikiranku buyar, tak terfokus akan kehilangan, aku terfokus dengan Ibu dan Kakak perempuanku. Aku memeluk ibu dan berbisik “Ma, yang kuat ma.” Dan Ibu hanya menjawab “Iya kita HARUS kuat".
Sebentar aku meninggalkan Ibu dan menghampiri Kakak perempuanku yang sudah dibantu berdiri dan duduk diluar sama teman-teman kantor Ayah. Begitu melihat kedatanganku dia membuka tangannya dan kami pun menangis sambil berpelukan sambil ku katakan "Kita kuat Cha, masih ada mama kan kak".
Tidak lama, Ayah pun pergi diiringi doa dan tangis serta hati orang-orang yang ada disekelilingnya saat itu Ibu duduk lemas sambil menangis entah berbicara apa, yang ku dengar dia memanggil “Paaa’ jangan pergi…” Sedangkan Kakak perempuan pertamaku terjatuh, terkulai lemah. Aku bingung, apa yang harus aku lakukan saat itu. Pikiranku buyar, tak terfokus akan kehilangan, aku terfokus dengan Ibu dan Kakak perempuanku. Aku memeluk ibu dan berbisik “Ma, yang kuat ma.” Dan Ibu hanya menjawab “Iya kita HARUS kuat".
Sebentar aku meninggalkan Ibu dan menghampiri Kakak perempuanku yang sudah dibantu berdiri dan duduk diluar sama teman-teman kantor Ayah. Begitu melihat kedatanganku dia membuka tangannya dan kami pun menangis sambil berpelukan sambil ku katakan "Kita kuat Cha, masih ada mama kan kak".
Semua usai, waktuku memiliki kebersamaan dengan seorang Ayah sudah usai.....
Senin, 28 Oktober 2013
Malam Itu...
Ada banyak hal di dunia ini yang seperti tak pernah diberi ruang untuk dicintai.
Malam ini, aku memutuskan untuk membenci denting sendok yang kau mainkan dalam cangkir kosong itu sejak tadi. Setengah mati kucoba berkawan dengan dialog tanpa kata-kata di antara kita. Tapi, upayamu untuk membunuh kesunyian yang memekakkan ini rupanya lebih sia-sia.
Bukan begini semestinya. Bersamamu, aku tak pernah gagal membangun bertumpuk-tumpuk cerita. Biasanya, kamu bahkan lupa pada apa saja yang ada di atas meja karena terlalu sibuk mencari cara untuk menjegal tawa.
Kuamati cairan pahit di gelasmu yang sudah tandas tak bersisa. Pasti bukan karena suka, tetapi lebih untuk membuang jemu saja. Dan kue di sampingnya itu bukannya tak menerbitkan selera, atau tak layak rasanya. Tapi entah bagaimana, hening yang kita susun berdua ini membuatnya seolah cuma pemanis meja.
Malam ini, aku memutuskan untuk membenci denting sendok yang kau mainkan dalam cangkir kosong itu sejak tadi. Setengah mati kucoba berkawan dengan dialog tanpa kata-kata di antara kita. Tapi, upayamu untuk membunuh kesunyian yang memekakkan ini rupanya lebih sia-sia.
Bukan begini semestinya. Bersamamu, aku tak pernah gagal membangun bertumpuk-tumpuk cerita. Biasanya, kamu bahkan lupa pada apa saja yang ada di atas meja karena terlalu sibuk mencari cara untuk menjegal tawa.
Kuamati cairan pahit di gelasmu yang sudah tandas tak bersisa. Pasti bukan karena suka, tetapi lebih untuk membuang jemu saja. Dan kue di sampingnya itu bukannya tak menerbitkan selera, atau tak layak rasanya. Tapi entah bagaimana, hening yang kita susun berdua ini membuatnya seolah cuma pemanis meja.
Seperti ribuan malam kita yang lalu, sedetik pun tak pernah kupindahkan tatapanku darimu. Kalau sudah begitu, rekahnya senyummu biasanya tak perlu lagi kutunggu. Melengkapi jari-jari kita yang saling berpagut itu, di dasar bola matamu kutemukan bahasa yang paling tak lihai berdusta.Sejumput napas baru saja kuhela.
Kini lihatlah dirimu. Bahkan pandanganmu seperti ditambat di meja dengan paku.
Kamu pasti belum tahu. Isi dada ini sudah sejak tadi kuasah agar jadi sekeras batu. Tak bakal rapuh oleh apapun yang kau pendam di balik redup wajahmu itu. Atau bahkan mungkin sudah kuasah sejak kali pertama kita bertemu?
Jika ini adalah sandiwara bisu yang kau ciptakan untuk kita berdua, terus terang aku tak mampu menjadi pemeran utamanya. Bagaimana bisa kau kemudikan peran sutradara dengan begitu sempurna?
“L", ada apa?” Aku tak tahan. Takut terjerembab makin dalam di bisingnya kesunyian yang kita ciptakan.
Kamu tetap diam. Memilih tenggelam dalam bungkam. Tanganmu berhenti memainkan sendok dengan udara, tapi tatapanmu masih saja mencengkeram meja.
“L” Kali ini, nadaku sudah tiba di ujung mengiba. Kuraih tanganmu, yang baru kusadari nyaris sedingin es batu. Kuselipkan jarimu dalam genggaman, lalu pandangan kita akhirnya berkelindan sebagai jawaban.
Sejak tadi, aku tahu betul ada lembaran kusut yang sedang menanti. Tapi saat kulihat sudut matamu itu tergenangi, aku mengerti. Cerita kita berdua mungkin akan berhenti di sini.
Bagaimanapun kerasnya hati ini kutempa menjadi batu, ternyata retak juga oleh gerimis yang turun dari kelopak matamu.
Denyut nadiku berlari. Dan jantungku, tak lama lagi kuyakin akan merosot ke kaki.
“AL” katamu setelah terasa berabad-abad kutunggu. Suaramu serak seperti terganjal palu.
Dan palu itu sekarang menghantam kepalaku. Sampai dada ini ikut merasa ngilu.
Segumpal ludah tertahan di tenggorokan. Tak bisa kutelan meski jalan napas sudah mati-matian kulonggarkan.
Aku menatapmu. Beku. Rasanya seperti diikat mati oleh bola matamu.
Pundakmu bergetar. Perutku berputar.
“L” kataku, menata suara yang entah bisa keluar darimana. “Bukankah dari awal kita berdua tahu kalau buku yang kita buka ini pasti ada akhirnya?”
Kini lihatlah dirimu. Bahkan pandanganmu seperti ditambat di meja dengan paku.
Kamu pasti belum tahu. Isi dada ini sudah sejak tadi kuasah agar jadi sekeras batu. Tak bakal rapuh oleh apapun yang kau pendam di balik redup wajahmu itu. Atau bahkan mungkin sudah kuasah sejak kali pertama kita bertemu?
Jika ini adalah sandiwara bisu yang kau ciptakan untuk kita berdua, terus terang aku tak mampu menjadi pemeran utamanya. Bagaimana bisa kau kemudikan peran sutradara dengan begitu sempurna?
“L", ada apa?” Aku tak tahan. Takut terjerembab makin dalam di bisingnya kesunyian yang kita ciptakan.
Kamu tetap diam. Memilih tenggelam dalam bungkam. Tanganmu berhenti memainkan sendok dengan udara, tapi tatapanmu masih saja mencengkeram meja.
“L” Kali ini, nadaku sudah tiba di ujung mengiba. Kuraih tanganmu, yang baru kusadari nyaris sedingin es batu. Kuselipkan jarimu dalam genggaman, lalu pandangan kita akhirnya berkelindan sebagai jawaban.
Sejak tadi, aku tahu betul ada lembaran kusut yang sedang menanti. Tapi saat kulihat sudut matamu itu tergenangi, aku mengerti. Cerita kita berdua mungkin akan berhenti di sini.
Bagaimanapun kerasnya hati ini kutempa menjadi batu, ternyata retak juga oleh gerimis yang turun dari kelopak matamu.
Denyut nadiku berlari. Dan jantungku, tak lama lagi kuyakin akan merosot ke kaki.
“AL” katamu setelah terasa berabad-abad kutunggu. Suaramu serak seperti terganjal palu.
Dan palu itu sekarang menghantam kepalaku. Sampai dada ini ikut merasa ngilu.
Segumpal ludah tertahan di tenggorokan. Tak bisa kutelan meski jalan napas sudah mati-matian kulonggarkan.
Aku menatapmu. Beku. Rasanya seperti diikat mati oleh bola matamu.
Pundakmu bergetar. Perutku berputar.
“L” kataku, menata suara yang entah bisa keluar darimana. “Bukankah dari awal kita berdua tahu kalau buku yang kita buka ini pasti ada akhirnya?”
Bahkan bagaimana ketenangan busuk ini bisa kuperdaya, tak kurangnya membuatku terkesima. Rupanya, aku pun mulai mahir berpura-pura.
“Akhir buku biasanya bahagia.”
“Tidak juga. Kecuali aku pangeran dan kamu Cinderella.”
“Tapi ini nggak adil,” Nada suaramu meronta. “Kenapa kita nggak dipisah di tengah buku saja? mengapa harus menunggu sampai selesai cerita, saat kita berdua sudah kenal begini dekatnya?”
Aku tersenyum, terpaksa. “Kita bahkan sudah dekat sejak kamu belajar mengeja, " L". Ingat?”
Kamu menggigit bibir, seolah sakitnya bisa menyamarkan rambatan getir. Di matamu yang biasa bergelimang cahaya, kembali kutemukan selapis kaca.
“Bagaimana rasanya hidup tanpa kamu, "AL” ?
Bagaimana aku bertahan hidup tanpa kamu, "L"?
Aku melepas tautan tangan kita, supaya gemetar dari tanganku yang datang tiba-tiba ini tak singgah di sana.
Kulemparkan sebuah tawa, agar kristal bening yang bergantung di ujung mata ini hilang tertelan udara.
“L", jarak rumah kita masih satu kayuhan sepeda.”
Sekali lagi, ketakutanku yang sudah mengendap terlalu matang ini berhasil kubungkus rapi dalam semacam drama berseri.
Lalu, lapisan kaca di pelupuk matamu mendadak pecah. Serpihannya membuat wajahmu basah.
Dengan terisak, kau sampaikan hal yang membuat kepalaku terlindas sesak
Entah untuk yang ke berapa kalinya, suaraku tersesat. Dan dalam kondisi senyalang singa, mataku mendadak terasa berat…Tuhan terlalu besar untuk berbuat salah,meski kamu bukan seperti pembatas buku yang bisa dengan mudah dicari penggantinya olehku "L".
Pertemuan itu.....saat aku linglung harus memulai "L".... kamu tahu...
“Akhir buku biasanya bahagia.”
“Tidak juga. Kecuali aku pangeran dan kamu Cinderella.”
“Tapi ini nggak adil,” Nada suaramu meronta. “Kenapa kita nggak dipisah di tengah buku saja? mengapa harus menunggu sampai selesai cerita, saat kita berdua sudah kenal begini dekatnya?”
Aku tersenyum, terpaksa. “Kita bahkan sudah dekat sejak kamu belajar mengeja, " L". Ingat?”
Kamu menggigit bibir, seolah sakitnya bisa menyamarkan rambatan getir. Di matamu yang biasa bergelimang cahaya, kembali kutemukan selapis kaca.
“Bagaimana rasanya hidup tanpa kamu, "AL” ?
Bagaimana aku bertahan hidup tanpa kamu, "L"?
Aku melepas tautan tangan kita, supaya gemetar dari tanganku yang datang tiba-tiba ini tak singgah di sana.
Kulemparkan sebuah tawa, agar kristal bening yang bergantung di ujung mata ini hilang tertelan udara.
“L", jarak rumah kita masih satu kayuhan sepeda.”
Sekali lagi, ketakutanku yang sudah mengendap terlalu matang ini berhasil kubungkus rapi dalam semacam drama berseri.
Lalu, lapisan kaca di pelupuk matamu mendadak pecah. Serpihannya membuat wajahmu basah.
Dengan terisak, kau sampaikan hal yang membuat kepalaku terlindas sesak
Entah untuk yang ke berapa kalinya, suaraku tersesat. Dan dalam kondisi senyalang singa, mataku mendadak terasa berat…Tuhan terlalu besar untuk berbuat salah,meski kamu bukan seperti pembatas buku yang bisa dengan mudah dicari penggantinya olehku "L".
Pertemuan itu.....saat aku linglung harus memulai "L".... kamu tahu...
Ada banyak hal di dunia ini yang bisa kita benci. Kebanyakan pasangan membenci pertengkaran, padahal kemesraan termewah justru datang di ujung perdamaian. Kebanyakan orang membenci perpisahan, padahal tanpa itu mereka tak akan tahu bagaimana caranya menghargai pertemuan.
Aku mengakhiri rasa yang tak selesai itu, tengah malam ini saat aku menciummu. Mengurai simpul demi simpul kisah ini, yang luar biasa menyesakkan membuat aku lelah karna merangkak hanya untuk mendapatkan kamu.
Aku mengakhiri rasa yang tak selesai itu, tengah malam ini saat aku menciummu. Mengurai simpul demi simpul kisah ini, yang luar biasa menyesakkan membuat aku lelah karna merangkak hanya untuk mendapatkan kamu.
Tangisan dalam kekuatan Perempuan
Aku ingin tau banyak hal tentang perasaan demi perasaan ditiap perempuan yang berbeda.
mengapa perempuan mudah sekali sakit hati ?
mengapa perempuan perasaannya lebih halus daripada laki-laki ?
banyak jawaban,karena perempuan itu makhluk yang lemah .
tapi bukan itu jawabku.perempuan tidaklah lemah.dia kuat.bahkan ketika kekuatan itu memenuhi dalam dirinya kita tidak akan pernah tau bagaimana dia bisa melakukan semua itu. Hati- hati para lelaki … jangan meremehkan kaum perempuan!
ketika badan perempuan itu sudah sakit dia masih mampu untuk menahan berbagai masalah dari luar kemampuan tubuhnya permasalahan itu memag sepele tapi menghujat lebih dari adanya permasalahan yang besar, menahan berbagai masalah dan gujatan batin hanya bisa dilakukan oleh seorang perempuan.itulah hebatnya.menyelesaikan masalah tanpa tau bahwa dirinya terluka itulah kekuatannya.
mengapa perempuan mudah sekali sakit hati ?
mengapa perempuan perasaannya lebih halus daripada laki-laki ?
banyak jawaban,karena perempuan itu makhluk yang lemah .
tapi bukan itu jawabku.perempuan tidaklah lemah.dia kuat.bahkan ketika kekuatan itu memenuhi dalam dirinya kita tidak akan pernah tau bagaimana dia bisa melakukan semua itu. Hati- hati para lelaki … jangan meremehkan kaum perempuan!
ketika badan perempuan itu sudah sakit dia masih mampu untuk menahan berbagai masalah dari luar kemampuan tubuhnya permasalahan itu memag sepele tapi menghujat lebih dari adanya permasalahan yang besar, menahan berbagai masalah dan gujatan batin hanya bisa dilakukan oleh seorang perempuan.itulah hebatnya.menyelesaikan masalah tanpa tau bahwa dirinya terluka itulah kekuatannya.
Langganan:
Postingan (Atom)