Selasa, 20 November 2012

Masih Cinta Sederhana

Jika menyentuh sesuatu yang menenangkanku dihalalkan oleh-Nya…
aku akan merengkuh indah itu saat ia nyata di sampingku…
sungguh…
aku mau bahu itu menjadi penyangga saat aku nyata limbung dan dia   menegarkanku saat aku salah

jika bersandar di bahunya bukan sesuatu yang akan menghinakan aku..

kau ajari aku cinta, ajari bahwa tak selamanya indah
ini cukup untuk bertahan bersamamu
kemudian kita lalu bersama kau menangis dalam duka
kau gembira dalam suka bersama tawa lepas dan aku hening,kubilang ini cukup untuk sebagai alasan bagiku bersamamu.
suatu kala, aku belajar bahwa cinta adalah cinta ada dan tiada kau disini
kau tidak pernah akan terganti
dan semua ini cukup untuk aku bertahan bersamamu selama beberapa belas tahun lagi
tapi sayangku
kemudian kau bicara padaku soal tujuan hidup,kondisi nyata,dan cita cita
hingga bukan cuma janji setia yang kau lontarkan
namun kau juga sampaikan bahwa kematian bisa jemput kau dan aku kapan saja
sehingga kau paksa aku untuk tetap bertahan..
maka
apalagi alasan ku untuk menyatakan Sang Kala untuk kita pisah
entahlah..kadang memang cinta  itu sederhana saja
kau pilih satu manusia yang juga memilihmu
mengisi hari hari dengan hal hal indah
buat janji setia dihadapan kuasa tuhan
dalam hati,dengan lisan dan tindak tanduk perbuatan
lalu merangkai dia dengan perihnya memahami kematian dan ketidak abadian
itu saja.....
tidak berlebih dan tak pernah kurang
begitu sederhana sekali lagi ..cinta
begitu sederhana....

Aku Wariskan Sebuah Blog Untukmu Anakku


Anakku…
Ayahmu bukanlah siapa-siapa
Ayahmu hanya seorang blogger yang mematut diri didepan layar komputer
Mencoba menulis dan terus menulis
Mulai dari bait per bait hingga menjalin sebuah kalimat
Anakku…
Semua itu dilakukan hanya untuk melepaskan penat
Karena hanya dengan menulislah semuanya tak lagi melekat
Apalagi tercekat
Anakku…
Bagiku, kau adalah anugerah yang tiada terhingga
Memandangmu rasanya seperti mendapatkan oase ditengah sahara
Anakku…
Ayahmu bukanlah orang kaya
Apalagi orang tepandang di negeri antah berantah ini
Jadi jangan berharap engkau akan mendapatkan warisan uang dan kekayaan
Karena semua itu adalah kesenangan palsu
Kesenangan yang banyak menjerumuskan orang
Orang suci sekalipun bisa terjurumus meskipun dia berlindung di tempat suci
Anakku…
Ayahmu hanya bisa mewariskan sebuah blog
Aku ingin engkau tahu bahwa kisahmu Kisah Ayah dan Ibu ada dalam blog ini
Hingga saatnya nanti kaulah yang akan meneruskan ceritanya
Anakku…
Blog ini adalah warisan paling berharga untukmu
Hingga kau bisa menuliskan orang-orang dan kejadian disekitarmu
Jika Ayahmu sudah tidak ada lagi di dunia ini kelak
Cukup berikan tulisan yang menginspirasi agar Ayahmu ini bangga melihatnya
Jagoan-Jagoan Ayah … Muhammad Alif Alhafidz Fahrezi & Muhammad Azzam Alfahrezi

Sabtu, 17 November 2012

Rasa sayang nya pada ku sudah tiba di hatiku : 'L'

Aku mau menunggu biar sampai gigil jari kuku ku, aku mau menunggu.
Biar cinta yang mengalahkan rindu, bukan sebaliknya. Aku mau kali ini cinta yang menang sebagai kita, bukan sebagai aku atau bukan sebagai dia. Aku mau menunggu sampai tak berbatas waktu, karena kata, bila Tuhan sudah punya mau menyatukan aku dan dia tidak akan selama membalikkan telapak tangan. 
"Aku mau menunggu, karena aku tau sesuatu yang indah itu tidak akan selesai hanya dalam satu waktu. Aku mau menunggu seperti elang gundul yang tak akan berpaling sampai pasangannya dijemput mati. Aku mau menunggu seperti tangkai yang setia menunggu bunga mekar. Sebesar itu rasa ku padamu.." 

Kalimat itu jatuh dengan mata yang berkaca-kaca. Aku mau dia tidak jadi ragu dan menganggapku tidak sanggup. Aku mau dia tidak jadi ingin ditunggu olehku. Sekuat tenaga aku menahan bulir airmata yang sudah mengkilat-mengkilat di mata. Akhir desember yang ceria kah ? mengingat saat dimana mendung datang ?.


Ada rindu sedikit menyayat di dada. Tepat semalam sebelum malam ini tiba ada wanita yang mampu membuat aku menitik air mata.
"Aku mungkin ada sedikit rasa untukmu.." katanya setelah beberapa saat ku dengar helaan nafas yang panjang beberapa kali. "Aku sayang kamu" Ada jeda sejenak, kami sama-sama diam.
Aku memang sempat mengatakan kesukaan ku pada nya beberapa malam kemarin, dan pernyataannya malam ini sungguh membuat aku sedikit terkejut. Tapi dengan wanita bersuara seteduh pohon mahoni yang berbaris rapi di sisi kanan dan kiri jalan, hatiku berdesir lemah. Tapi apa benar ini cinta? 
Apa benar rasa suka yang kemarin sempat aku ucapkan dengan peluh keringat dingin sama dengan rasa yang ia sebut sayang barusan saja.
Kami sempat menarik nafas berbarengan sebelum akhirnya aku berkata "Hmm, aku harus bilang apa ya? Aku..."
"Kamu gak harus bilang apa-apa kok..Aku kan gak nanya apa-apa" ia memotong perkataan ku yang belum selesai.
Kami diam kembali beberapa saat. Mengetahui ada getar berbeda yang tak pernah ku rasakan sebelumnya, aku semakin takut untuk mengaku. Indah. Namun sayang tak tepat waktu. Sampai kemudian ia mencoba untuk mengalihkan perhatianku. Aku tahu dia tahu aku sedang sibuk mencari sejumput kata, dan memang iya. Apa yang harus ku katakan padanya ya kalau aku ini sebenarnya... sebenarnya sudah berprinsip untuk tidak berpacaran sebelum menikah.
Ada sesal. Mengapa ku biarkan rasa ini tumbuh di masing-masing hati kami berdua. Sementara janji pada diri sendiri ini sudah membawa-bawa nama Tuhan, yang tidak mungkin aku langgar setelah sekian lama mencoba menasbihkan diri pada jalan yang kupilih sendiri. Rumit menjelaskan padanya tentang...ah, aku sendiri bingung tentang apa.
Mata memang sudah terpejam, namun suara yang mirip desir angin pohon mahoni masih bersarang di hati, kalau terus ku diamkan mungkin akan membuat badai dan mungkin bisa jadi tsunami. Gelisah yang tak berarah. Hanya satu yang aku mau, mendengar kata-kata itu lagi dan lagi. Candu.

Tak biasa, aku sudah menyaksikan tiap gerak matahari menuju terbit di timur. Aku juga mendengar bunyi kokok pertama ayam jago milik tetangga samping rumah. Sudah dua jam aku duduk di balkon kecil lantai atas rumahku, bersimbah airmata. Apa kusudahi saja janji hati ini, dan memeluknya yang terasa nyata. Apa kusudah saja kesendirian ini, sehingga aku dapat tersenyum seri dengan ia sebagai tambatan hati. Atau ku buang jauh mimpi, untuk memetik cinta sang wanita pohon mahoni dan kembali mengukuhkan diri pada illahi. Atau aku bakar rasa ini secepat api membakar hutan hijau yang sering terjadi belakangan ini.
Harus apa aku Tuhan...harus apaa...
Rasa sayang nya pada ku sudah tiba di hatiku tepat ketika ia menyelesaikan kalimatnya semalam tadi. Rasa di hatiku adalah api, dan rasa nya serupa angin yang mengibarkan api ku ke tingkat paling besar. Hampir hangus.
Aku mau ia menunggu ku....
Betapa sakitnya saat itu, andai dia tau 
kembali menangis aku malam ini, mengingat ulang itu, tapi kini aku bahagia bersama dia. Dia yang kini menjadi milikku,'L'.

06 November 2011

Jumat, 16 November 2012

Bercinta

semalam kita bercinta
sampai lupa diri
bulan menutup mata
Tuhan purapura buta
hingga matahari pun menyapa
“ayo bercinta lagi “
nafasmu nafasku
bergemuruh dalam diam.
mendera dan menderu.


Minggu, 11 November 2012

Aku dan 'Perasaan' Ini. !

06 NOVEMBER 2011
_______________________________________
Ini minggu pagi, tak terlalu cerah disini.

Mentari hanya muncul sesekali.

Begitupun denganku, baik perasaan maupun fisikku, keduanya sama-sama sedang “tak cerah”.

Ini terasa sejak semalam, semuanya terasa campur aduk, beberapa hal membuatku kesal, dan memaksaku mengalirkan beberapa tetesan air dari kedua mataku.

Aku terpaksa menyembunyikan wajahku dibalik bantal setiap kakak perempuanku masuk ke kamar.
Sepanjang malam hanya satu lagu yang kudengarkan, lagu yang sering sekali kudengarkan beberapa hari ini.
Sampai saat ini kepalaku masih terasa sangat berat, tapi entah mengapa dia masih saja sanggup mengingat.
Mengingat tentang seseorang, seseorang yang akhir-akhir ini mengalihkan duniaku, mengubah segala pandangan dalam hidupku, bahkan dengan mudah mengubah cita-citaku.

Hai, selamat pagi..
Apa kabarmu hari ini?

Ini suratku untukmu,yang keberapa ya ? kau ingat ? sudah terlalu banyak ku tuliskan surat elektronik dalam kamar pribadiku ini untukmu.
Baiklah sebenarnya bukan ini inti dari sebuah surat ini, aku nyaris tak tau lagi harus berkata apa.
Aku pun juga tak mengerti tentang perasaan ini, maafkan aku, aku terlalu mengagumimu, aku mengagumi lebih dari sekedar mengagumi.

Aku mempunyai perasaan yang cukup dalam padamu, baiklah, aku menyukaimu.

Maafkan aku, aku jatuh cinta pada kepribadianmu. aku sudah berusaha menolak perasaan ini, aku sudah ‘menampar’ diri sendiri, aku sudah berkata “Hey AL, hentikan semua ini, sadarlah! kau siapa dia siapa, ini sangat tidak mungkin..”

Teman-temanku pun sudah berusaha menyadarkanku.
Tapi tetap tidak bisa, lagi-lagi dihadapanmu aku hanya es krim dan kau matahari, aku selalu ‘meleleh’ karenamu.

Maafkan aku yang tak tau diri ini.
Mungkin suatu saat kau akan membaca surat ini, saat kau membaca surat ini tolong jangan benci padaku.
Ini benar-benar sungguh diluar kendali.
Sekarang sudah sampai urusan hati.
Ada rindu dan cemburu yang tak tau diri, dan tak mengerti.
Tak mengerti bahwa aku ini tak pantas, tak pantas memiliki perasaan seperti ini.
Perasaan pada seseorang yang tak mungkin kugapai,kalau dia selalu mengingat masa lalu nya
Maaf, atas semua. ini, maaf atas harapan yang tentang masa depan ini.
Aku sangat ingin saat orang-orang bertanya padaku tentangmu, “AL, siapa dia?”
dan dengan nada mantap dan penuh perasaan bahagia aku berkata, “Dia,…..dia masa depanku”.
Tapi aku tau ini sangat tidak mungkin.

Mungkin seharusnya saat mereka bertanya, “AL, siapa dia?”
Dengan nada datar bahkan nyaris lirih seraya menarik nafas panjang aku akan menjawab, “Dia masa depanku,……………….semoga.”
Atau mungkin pilihan jawaban terakhirku adalah “Dia …, harapanku, hanya sebatas harapanku.”
___________________________________________________________
Itu Lirih aku padamu 'L' dalam surat ini, aku tak tau harus berucap apa lagi cukup.....! cukup 'L' !!! Aku lelah di hantui mimpi buruk itu ! 'Masa Lalu' AKU BENCI 'Masa Lalu'. Lihat aku, alihkan pandanganmu, balikkan badanmu kubisikkan kalimat, kata, dan perasaan CEMBURU ! , Aku dan 'Perasaan' Ini.

Jumat, 09 November 2012

['L'] Nama mu ???

Di sini, ku menepi di sudut kamar
Kala pertemuan senja dipenuhi awan berarak jingga
Selalu, kau mengukir hariku dikesepian
Ingatkan ada kisah hidup yang kusemat di tiap hadirmu.


Di tengah fikiran yang kosong, melanglang buana bersama imaji, ku menemukan namamu sayup-sayup. Entah sejak lembaran kisah mana,aku mulai terbiasa menepikan diri. Bersama hadirmu, mengurai kisah, menuntaskan tugas, merunut renstra (rencana strategi) dengan orang-orang yang kujumpai dalam hidup, serta hal lainnya yang tidak bisa kutepis darimu.

Hadirmu memang cukup lama. Sejak aku masih dalam tahun pertama, semester II. Walau saat itu masih sangat jarang kulalui hari bersamamu, tapi di kondisi tertentu aku benar-benar harus berkutat dengan duniamu.

Kini, atas hadir dan tingkahmu dalam hidup, sapaku padamu,["L"]. Nama yang kufikirkan sejak lama, dan menemukanmu dalam kondisi yang terfikirkan. Cukup lama. Dan pantaslah dirimu dengan sebutan yang sangat membantu memikirkan serpihan hariku. Sebab, kadangkala diri ini memang lemah, dan cukup lelah jika harus memaksakan diri menyimpan tumpukan sketsa seorang diri.

Bersamamu, kuingin kau menjadi teman hidupku dalam suka maupun duka di tengah hati yang selalu gelisah. Menelusuri hari dengan segumpal tugas yang menggertak jiwa, setumpuk kisah yang terbelenggu oleh waktu, dan sekelumit lainnya yang menggugat diri untuk bersamamu setiap saat.['L'].

Kamis, 08 November 2012

Ataukah Pesakitanku


Seringkali kita dihadapkan pada dua pilihan. Hanya dua. Tidak pernah lebih. Hanya ada baik atau buruk, atas atau bawah, depan atau belakang. Tidak ada tengah-tengah karena yang ada hanya memilih untuk tidak memilih. Apakah itu sebuah pilihan? Entah. Tapi bagiku, itu hanya berlaku bagi orang-orang yang terlalu takut. Terlalu takut untuk memilih. Orang-orang yang menghindari pilihan.
Lalu, pernahkah kau dihadapkan pada keadaan tidak memilih? Bukan. Bukan takut untuk memilih. Tapi karena semua pilihan hanya berujung pada satu. Keadaan dimana terlihat dua pilihan –yang memang hanya selalu dua- tapi nyatanya mereka hanyalah dua kata kerja yang berbeda, aktif atau pasif. Mereka tidak seperti baik atau buruk, atas atau bawah, depan atau belakang.

Jika kau tidak percaya, maka alihkan perhatianmu padaku. Lihatlah, hidupku selalu hanya bisa mengikuti arus. Timbul tenggelam, terhempas, terombang-ambing di tengah derasnya aliran sungai. Ada saatnya aku ingin berbelok, beralih jalan menuju aliran yang tenang, tanpa guncangan. Namun sekuat apapun aku melawan, pada akhirnya aku akan kembali terbawa arus deras ini.
Aku tak ubahnya seonggok raga tanpa jiwa. Tubuh kosong yang sudah tidak dibutuhkan. Seluruh ‘isi’ di dalam tubuhku telah dipaksa keluar. Bahkan beserta ‘isi’ku itu, aku masih tetap tak berdaya. Pun dalam keadaanku yang berbeda. Tak akan mengubah takdirku yang hanya sebagai penggembira. Semacam tokoh paling baik yang akan dikorbankan demi kebahagiaan tokoh utama, tentunya.
Penggembira yang akan selalu dicampakkan, dibuang begitu saja setelah menunaikan tugasnya. Mengikuti derasnya aliran, menjadi tempat tinggal bagi kehidupan baru yang kedinginan. Selalu begitu hingga –entah kapan- akhirnya air ini akan membawaku ke sebuah tempat biru nan luas, namun lebih berbahaya. Sekali lagi, entah kapan.
Sampai saat itu tiba, aku memilki dua buah pilihan –aktif atau pasif- yang hanya akan berujung pada satu. Pilihan itu adalah mengalah atau dikalahkan. Lalu aku memutuskan untuk membuat pilihan ketiga. Menunggu. Menunggu untuk akhirnya –dipaksa- mengalah atau menunggu untuk akhirnya –terpaksa- dikalahkan.
Janganlah mengasihaniku, Kawan. Karena pada akhirnya aku bisa membuat pilihanku sendiri. Lagipula, dalam setiap inci perjalananku, aku selalu menemukan hal-hal baru. Pelajaran-pelajaran baru. Aku, seonggok kaleng bekas berkarat. Dan inilah kisahku, Kisah yang belum berakhir, melainkan baru saja dimulai pesakitan nya.

Jumat, 02 November 2012

Be My Wife

Damn why it's so hard to say
Secret feelings locked away
Heaven knows I've always felt so much
For you

I'm not that romantic
Even worse I'm sarcastic sometimes
And now it's time I tell you this
What's always been my only wish

Eventhough I'm no spiderman or superman
I'll be the one who guards you
Night and day and trust me
I don't need no spiderweb or laser eyes
Cause you're giving me
The strength to say
Share you life and be my wife

Kamis, 01 November 2012

Amanda Az-Zahra


Tak ada yang istimewa dari memerahnya langit saat senja. Itu hanya lintasan cahaya matahari yang semakin panjang sebelum jatuh di kornea mata kita. Tak ada yang istimewa dari senja, tak ada, percayalah.
Entah mengapa kau sangat tak suka pada senja. Saat matahari terbakar dicumbu ufuk dan mereka luruh menjadi malam, lantas melahirkan rembulan, sungguh suasana yang romantis, tapi kau bahkan serupa membencinya.
Kalian perempuan memang suka mengada-ada. Surya, senja, purnama, semua kalian  bilang romantis. Tidak tahukah kalau sedikit saja pijarnya matahari, bisa membuat gosong seluruh bumi kalau tak ada atmosfer sebagai pelindung. Coba bayangkan, bila bulan tiba-tiba lepas dari garis edar dan menumbuk bumi, tamatlah kita.
Baiklah kalau kau tak suka hal-hal yang romantis. Kalian laki-laki, lebih terseret arus logika-logika, sedang perempuan serupa mendewakan rasa, aku mengalah.
Namun aku tetap suka kau. Meski menggerutu, toh dirimu duduk di sini, di sampingku, menikmati senja dan debur ombak yang bernyanyi meningkahi angin semilir menari.
Meski kau hanya duduk diam, merengkuhku dengan lenganmu yang kokoh, membiarkan dada bidangmu sebagai sandaran lalu mendengarkanku yang berceloteh tentang indahnya senja, riuhnya orang yang lalu lalang sepanjang pantai, nelayan-nelayan yang menyiapkan sampan, hingga burung-burung yang berterbangan, terburu-buru, menuju pulang.
Matahari perlahan menghilang, tenggelam di horison samudera nan jauh. Saat kau mengajakku bangkit, berjalan menyisir pantai menuju parkiran, kala itulah kita melihatnya. Seorang gadis cilik mengintip dari balik sebatang pohon kelapa,
Hallo sayang?” sapamu padanya.
“dia hanya melempar sungging bibir mungilnya yang manis” jawabnya sambil tersenyum malu dan kemudian berlari ke arah teman-temannya yang bermain di pantai.
“Kali ini, aku sepakat denganmu, senja itu romantis. Dan aku tak ingin kehilangan kembali ibu ayah ku pasti bahagia di surga lihat aku mempunyai gadis cilik secantik Ara” Yah, Namanya Amanda Az-Zahra , aku sambil mengerling nakal.
Matahari semakin luruh, dan senja memerah sempurna, di rona pipiku. 

Sebab Cinta Itu Kuat Seperti Maut


Satu tahun yang lalu, November 2011, pertemuan unik kami terjadi. Saat itu kebetulan aku dan dia yang sama-sama hoby membaca. Hari itu aku membaca sebuah buku yang cover judulnya  A Small Miracle. Aku selalu menyukai buku-buku seperti itu. Sebab aku berharap bahwa garis hidup akan membawaku pada peristiwa-peristiwa yang ajaib seperti yang tertulis dalam buku itu. Bukan mistik. Namun sekedar untuk menikmati dan merasakan hadirat Tuhan yang begitu dekatmelalui mujizat. Sedekat urat nadi yang melekat erat.
Perempuan itu kira-kira 19an tahun usianya. Beda beberapa tahun denganku. Tubuhnya tidak terlalu Indah, tapi terlihat indah dan manis. Rambutnya lurus. Senyumnya, oh aku selalu menyukai cara ia menyunggingkan senyumannya. Manis.
Lewat pertemuan itu kami menjadi dekat. Akrab seperti layaknya seorang sahabat. Meski kami tinggal berjauhan, tapi komunikasi kami terus berjalan. Sesekali kami bertemu. Hanya untuk mengobrol dan tentu saja sambil berburu buku. Sama sepertiku, ia juga seorang kutu buku.
Mulanya kupikir rasa di hatiku itu biasa-biasa saja. Tapi lama-lama aku mulai menyadari ada satu hal yang tak seperti biasanyaBila sehari saja tak menerima message atau telpon darinya, aku mulai gelisah. Segala yang kulakukan jadi serba salah. Yang kuinginkan saat itu hanya ingin berlama-lama berada di dekatnya dan terus menerus mendengar suaranya. Kau benar, aku mulai jatuh cinta!
Ya, aku jatuh cinta padanya. Tapi bibir ini selalu tak sanggup mengutarakan isi hati. Saat itu aku tak pernah tau apakah ia memiliki perasaan yang sama. Yang kutau, aku sering diam-diam menahan tangis karena memendam rasa. Setahun, dua tahun, aku bertahan dalam asa. Tapi tak juga terjadi apa-apa. Sampai akhirnya satu hal membuat kami benar-benar berpisah.
Orang itu, sebut saja 'L' namanya.Kalau kau mengenalnya, tolong katakan padanya, bahwa aku mencintainya. Aku sungguh-sungguh mencintainya. Menyesal tak pernah bisa mengatakan hal ini sebelumnya. Sampaikan juga bahwa saat ini aku masih sendiri. Belum bisa menemukan perempuan yang lebih baik dari perempuan ini. Aku berharap tahun ini aku bisa menemukan keajaiban untuk diriku sendiri. Menemukannya. Ya, menemukannya untuk kucintai sampai aku mati.
selamanya cinta,
- AL-


Senja sudah mulai tampak di kejauhan. Menatap pantai, seseorang menarik nafas panjang. Debur ombak memecah kesunyian. Delapan tahun lalu tepat di tempat itu, ia menaburkan abu.
‘L!’ Seorang teman berlari menghampiri. ‘Lihat apa yang kutemukan.’ Berseri ia memberikan sebuah botol beserta selembar kertas‘Kurasa surat ini untukmu!’
Keheranan perempuan itu membaca setiap kata yang tertulis dalam kertas itu. Seseorang menulis pesan dan menyimpannya dalam sebuah botol. Setelah selesai membaca, sedetik kemudian perempuan itu tersenyum. Surat masih berada dalam genggaman tangannya.
Tulisan tangan itu.. 'AL'.. Cinta yang selalu dirindukannya.
‘Rest in peace,.. Kau benar, mujizat itu nyata. Dan kupikir, aku sudah menemukannya..’
*
sebab cinta itu kuat seperti maut.. selalu dapat menemukan jalannya.. tak pernah kehilangan arah... 6 NOVEMBER 2011