Aku mau menunggu biar sampai gigil jari kuku ku, aku mau menunggu.
Biar cinta yang mengalahkan rindu, bukan sebaliknya. Aku mau kali ini cinta yang menang sebagai kita, bukan sebagai aku atau bukan sebagai dia. Aku mau menunggu sampai tak berbatas waktu, karena kata, bila Tuhan sudah punya mau menyatukan aku dan dia tidak akan selama membalikkan telapak tangan.
"Aku mau menunggu, karena aku tau sesuatu yang indah itu tidak akan selesai hanya dalam satu waktu. Aku mau menunggu seperti elang gundul yang tak akan berpaling sampai pasangannya dijemput mati. Aku mau menunggu seperti tangkai yang setia menunggu bunga mekar. Sebesar itu rasa ku padamu.."
Kalimat itu jatuh dengan mata yang berkaca-kaca. Aku mau dia tidak jadi ragu dan menganggapku tidak sanggup. Aku mau dia tidak jadi ingin ditunggu olehku. Sekuat tenaga aku menahan bulir airmata yang sudah mengkilat-mengkilat di mata. Akhir desember yang ceria kah ? mengingat saat dimana mendung datang ?.
Ada rindu sedikit menyayat di dada. Tepat semalam sebelum malam ini tiba ada wanita yang mampu membuat aku menitik air mata.
"Aku mungkin ada sedikit rasa untukmu.." katanya setelah beberapa saat ku dengar helaan nafas yang panjang beberapa kali. "Aku sayang kamu" Ada jeda sejenak, kami sama-sama diam.
Aku memang sempat mengatakan kesukaan ku pada nya beberapa malam kemarin, dan pernyataannya malam ini sungguh membuat aku sedikit terkejut. Tapi dengan wanita bersuara seteduh pohon mahoni yang berbaris rapi di sisi kanan dan kiri jalan, hatiku berdesir lemah. Tapi apa benar ini cinta?
Apa benar rasa suka yang kemarin sempat aku ucapkan dengan peluh keringat dingin sama dengan rasa yang ia sebut sayang barusan saja.
Kami sempat menarik nafas berbarengan sebelum akhirnya aku berkata "Hmm, aku harus bilang apa ya? Aku..."
"Kamu gak harus bilang apa-apa kok..Aku kan gak nanya apa-apa" ia memotong perkataan ku yang belum selesai.
Kami diam kembali beberapa saat. Mengetahui ada getar berbeda yang tak pernah ku rasakan sebelumnya, aku semakin takut untuk mengaku. Indah. Namun sayang tak tepat waktu. Sampai kemudian ia mencoba untuk mengalihkan perhatianku. Aku tahu dia tahu aku sedang sibuk mencari sejumput kata, dan memang iya. Apa yang harus ku katakan padanya ya kalau aku ini sebenarnya... sebenarnya sudah berprinsip untuk tidak berpacaran sebelum menikah.
Ada sesal. Mengapa ku biarkan rasa ini tumbuh di masing-masing hati kami berdua. Sementara janji pada diri sendiri ini sudah membawa-bawa nama Tuhan, yang tidak mungkin aku langgar setelah sekian lama mencoba menasbihkan diri pada jalan yang kupilih sendiri. Rumit menjelaskan padanya tentang...ah, aku sendiri bingung tentang apa.
Mata memang sudah terpejam, namun suara yang mirip desir angin pohon mahoni masih bersarang di hati, kalau terus ku diamkan mungkin akan membuat badai dan mungkin bisa jadi tsunami. Gelisah yang tak berarah. Hanya satu yang aku mau, mendengar kata-kata itu lagi dan lagi. Candu.
Tak biasa, aku sudah menyaksikan tiap gerak matahari menuju terbit di timur. Aku juga mendengar bunyi kokok pertama ayam jago milik tetangga samping rumah. Sudah dua jam aku duduk di balkon kecil lantai atas rumahku, bersimbah airmata. Apa kusudahi saja janji hati ini, dan memeluknya yang terasa nyata. Apa kusudah saja kesendirian ini, sehingga aku dapat tersenyum seri dengan ia sebagai tambatan hati. Atau ku buang jauh mimpi, untuk memetik cinta sang wanita pohon mahoni dan kembali mengukuhkan diri pada illahi. Atau aku bakar rasa ini secepat api membakar hutan hijau yang sering terjadi belakangan ini.
Harus apa aku Tuhan...harus apaa...
Rasa sayang nya pada ku sudah tiba di hatiku tepat ketika ia menyelesaikan kalimatnya semalam tadi. Rasa di hatiku adalah api, dan rasa nya serupa angin yang mengibarkan api ku ke tingkat paling besar. Hampir hangus.
Aku mau ia menunggu ku....
Betapa sakitnya saat itu, andai dia tau
kembali menangis aku malam ini, mengingat ulang itu, tapi kini aku bahagia bersama dia. Dia yang kini menjadi milikku,'L'.
06 November 2011