Selasa, 14 Agustus 2012

Di Atas Sejadah Mama


Malam menuju puncaknya semakin sepi. Sedang aku masih saja belum bisa tidur. Yaa Allah rasanya berat sekali memikirkan anak-anakku. Al mau menikah bulan November, sedang kakaknya masih belum mendapatkan kepastian dari Afdan.
“Mama…” Aku terkejut. Anakku Al rupanya sudah bangun. Mungkin untuk shalat malam karena saat ini sudah hampir jam tiga pagi.
“Iya nak, kamu ngagetin mama aja.” Jawabku dengan suara yang pelan takut Fakhri terbangunkan.
“Aku lihat mama masih di situ … aja dari semalam. Mama kenapa…”Aku memang sudah lama duduk bersimpuh di atas sejadah, bercerita kepadaNya tentang kegelisahanku. Jarum jam berdetak terdegar lebih kencang, Al mendekatiku lalu duduk di sampingku setelah mencium tanganku. Aku sangat merasakan manjanya anak ini. Tapi sekarang dia bukan lagi anak kecil, dia ingin segera menikah dan inilah yang membuaktku gelisah.
“Iya, nak, gak apa-apa. Mama senang berdialog denganNya, nak, semuanya terasa damai…” Aku menyembunyikan kegelisahanku dari anakku.
“Tapi aku melihat airmata di wajah mama, kenapa ma…” Aku hanya diam, dan Al kembali berbicara.
“Baiklah ma, aku mau ngambil wudhu dulu ya. Nanti aku mau sahur di masjid saja ya Ma, kang Indra sudah menunggu di sana.”
“Iya sayangku…” aku lalu membiarkan anakku pergi dari sampingku setelah kukecup keningnya dengan penuh kehatian. Al-quran yang sedari tadi terbuka, aku lalu melanjutkan membacanya dengan suara yang sangat pelan. Fakhri masih terlelap. Seolah tengah bermimpi indah. Masih kuingat pula keinginannya untuk menjadi anggota band di sekolahnya, walaupun hanya ingin jadi rapernya saja. Fakhri memang anak yang penuh mimpi dan cita-cita. Fakhri lalu aku bangunkan untuk sahur.
Waktu subuh datang, aku masih tersungkur dalam sujud yang panjang. Memohon kepadaNya untuk yang terbaik bagi suami dan anak-anakku dan bagi keluargaku semuanya. Aku tak ingin terbangun dulu sebelum airmataku membanjir di atas sejadahku. Inilah saat dimana aku merasa sangat dekat denganNya, benar-benar tanpa jarak dan hanya inilah satu-satunya cara untuk menenangkan hatiku.
Aku mendengar Al adzan Subuh dengan suara dan nada khasnya. Membuat aku semakin memikirkan anak itu. Aku bangun dari sujudku, tahiyyat lalu salam. Kupanggil Fakhri yang masih sibuk dengan buku bacaan nya untuk mengajaknya sholat berjama’ah. Kanza tidak ada di rumah. Ia sedang menginap di rumah Jingga untuk menemaninya. Maklum Jingga sedang berduka di hatinya oleh karena keretakkan rumahtangganya.
Fakhri lalu pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Aku menunggunya sembari mendirikan sholat sunat qobla subuh. Setelah Fakhri kembali dari kamar mandi lalu mengenakan kokonya dan menungguku selesai sholat sunat, Fakhri lalu berdiri dan membaca Iqomat. Sungguh teduh hati ini ketika mendengar si bungsu itu melantunkan Iqomatnya, Mama bangga padamu nak. Mataku menggenangkan keharuan yang mendalam.
Kami lalu sholat subuh berjama’ah, inilah yang membuatku bangga berada di rumah yang sejuk dengan kasih dan sayang ini. Namun tetap saja akan lebih indah jika suamiku ada di sini.
Pagi menjelang siang Kanza datang dari rumah Jingga. Aku berniat untuk langsung mengatakan kepadanya tentang permintaan Al yang ingin menikah di bulan November nanti. Aku harus segera menyampaikan keinginan adiknya supaya tidak terjadi salah paham di antara mereka. Kebetulan Al masih belum pulang dari sejak subuh tadi. Mungkin masih tadarus atau justru ketiduran di masjid.
“Sini Nak, Mama mau bilang sesuatu yang sangat penting kepadamu.” Kanza pun mendekat saat aku panggil. Aku sudah menunggunya di sofa ruang tamu.
“Ada apa, Ma…” aku membenahi posisi dudukku menatap Kanza yang duduk di sampingku.
“Begini Nak, kemarin Al bilang ke Mama bahwa dia ingin menikahi kekasihnya yang selama ini tak pernah dia ceritakan kepada kita.” Aku menjelaskannya dengan sangat hati-hati.
“Menikah?” Kanza terlihat kaget.
“Iya nak, perempuan kekasih Al itu namanya “L”. Dia anak perempuan desa sebelah.” Tambahku.
“Serius ma?”
“Iya, orang Al juga bicaranya dengan sangat serius.”
“Alhamdulillaah… aku ikut bahagia, mam, semoga itu memang jodoh yang terbaik buat Al.”
“Kamu tak mengapa jika Al harus melewatimu sayang?”
“Sumpah demi Tuhan aku tidak merasa marah apalagi tersinggung. Aku justru bahagia, Ma, gak apa-apa aku didahului. Itu kan sudah ditakdirkanNya dan memang sudah tertulis di lauhilmafudzNya sejak kita sebelum lahir kan?”
“Iya sayang. Tapi mama masih berharap semoga di antara Afdan segera menikahimu sebelum November nanti. Supaya kamu bisa duluan.”
“Aamiin, iya ma, doain aja ya.
“Jadi kamu gak apa-apa kalaupun harus didahului menikah oleh adikmu sayang?”
“Iya ma, gak apa-apa. Aku malah bahagia ternyata adikku sudah dewasa dan sudah bisa menentukan jalan hidupnya sendiri.”
“Terimakasih ya nak, kamu harus tetap begitu menjadi kakak yang bisa dibanggakan. Al pasti bahagia mendengar kamu yang menijinkannya dengan rela hati.” Setelah obrolan kami selesai, aku lalu pergi ke rumah Kerabat dekatku untuk membicarakan hal yang sama. Kanza tinggal di rumah untuk membereskan rumah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar