Malam menuju puncaknya semakin sepi. Sedang aku masih
saja belum bisa tidur. Yaa Allah rasanya berat sekali memikirkan anak-anakku. Al
mau menikah bulan November, sedang kakaknya masih belum mendapatkan kepastian
dari Afdan.
“Mama…” Aku terkejut. Anakku Al rupanya sudah bangun.
Mungkin untuk shalat malam karena saat ini sudah hampir jam tiga pagi.
“Iya nak, kamu ngagetin mama aja.” Jawabku dengan
suara yang pelan takut Fakhri terbangunkan.
“Aku lihat mama masih di situ … aja dari semalam. Mama
kenapa…”Aku memang sudah lama duduk bersimpuh di atas sejadah, bercerita
kepadaNya tentang kegelisahanku. Jarum jam berdetak terdegar lebih kencang, Al
mendekatiku lalu duduk di sampingku setelah mencium tanganku. Aku sangat
merasakan manjanya anak ini. Tapi sekarang dia bukan lagi anak kecil, dia ingin
segera menikah dan inilah yang membuaktku gelisah.
“Iya, nak, gak apa-apa. Mama senang berdialog
denganNya, nak, semuanya terasa damai…” Aku menyembunyikan kegelisahanku dari
anakku.
“Tapi aku melihat airmata di wajah mama, kenapa ma…”
Aku hanya diam, dan Al kembali berbicara.
“Baiklah ma, aku mau ngambil wudhu dulu ya. Nanti aku
mau sahur di masjid saja ya Ma, kang Indra sudah menunggu di sana.”
“Iya sayangku…” aku lalu membiarkan anakku pergi dari
sampingku setelah kukecup keningnya dengan penuh kehatian. Al-quran yang sedari
tadi terbuka, aku lalu melanjutkan membacanya dengan suara yang sangat pelan.
Fakhri masih terlelap. Seolah tengah bermimpi indah. Masih kuingat pula keinginannya
untuk menjadi anggota band di sekolahnya, walaupun hanya ingin jadi rapernya
saja. Fakhri memang anak yang penuh mimpi dan cita-cita. Fakhri lalu aku
bangunkan untuk sahur.
Waktu subuh datang, aku masih tersungkur dalam sujud
yang panjang. Memohon kepadaNya untuk yang terbaik bagi suami dan anak-anakku
dan bagi keluargaku semuanya. Aku tak ingin terbangun dulu sebelum airmataku
membanjir di atas sejadahku. Inilah saat dimana aku merasa sangat dekat
denganNya, benar-benar tanpa jarak dan hanya inilah satu-satunya cara untuk
menenangkan hatiku.
Aku mendengar Al adzan Subuh dengan suara dan nada
khasnya. Membuat aku semakin memikirkan anak itu. Aku bangun dari sujudku, tahiyyat
lalu salam. Kupanggil Fakhri yang masih sibuk dengan buku bacaan nya untuk mengajaknya
sholat berjama’ah. Kanza tidak ada di rumah. Ia sedang menginap di rumah Jingga
untuk menemaninya. Maklum Jingga sedang berduka di hatinya oleh karena
keretakkan rumahtangganya.
Fakhri lalu pergi ke kamar mandi untuk mengambil
wudhu. Aku menunggunya sembari mendirikan sholat sunat qobla subuh. Setelah
Fakhri kembali dari kamar mandi lalu mengenakan kokonya dan menungguku selesai
sholat sunat, Fakhri lalu berdiri dan membaca Iqomat. Sungguh teduh hati ini
ketika mendengar si bungsu itu melantunkan Iqomatnya, Mama bangga padamu nak.
Mataku menggenangkan keharuan yang mendalam.
Kami lalu sholat subuh berjama’ah, inilah yang
membuatku bangga berada di rumah yang sejuk dengan kasih dan sayang ini. Namun
tetap saja akan lebih indah jika suamiku ada di sini.
Pagi menjelang siang Kanza datang dari rumah Jingga.
Aku berniat untuk langsung mengatakan kepadanya tentang permintaan Al yang
ingin menikah di bulan November nanti. Aku harus segera menyampaikan keinginan
adiknya supaya tidak terjadi salah paham di antara mereka. Kebetulan Al masih
belum pulang dari sejak subuh tadi. Mungkin masih tadarus atau justru ketiduran
di masjid.
“Sini Nak, Mama mau bilang sesuatu yang sangat penting
kepadamu.” Kanza pun mendekat saat aku panggil. Aku sudah menunggunya di sofa
ruang tamu.
“Ada apa, Ma…” aku membenahi posisi dudukku menatap
Kanza yang duduk di sampingku.
“Begini Nak, kemarin Al bilang ke Mama bahwa dia ingin
menikahi kekasihnya yang selama ini tak pernah dia ceritakan kepada kita.” Aku
menjelaskannya dengan sangat hati-hati.
“Menikah?” Kanza terlihat kaget.
“Iya nak, perempuan kekasih Al itu namanya “L”. Dia
anak perempuan desa sebelah.” Tambahku.
“Serius ma?”
“Iya, orang Al juga bicaranya dengan sangat serius.”
“Alhamdulillaah… aku ikut bahagia, mam, semoga itu memang
jodoh yang terbaik buat Al.”
“Kamu tak mengapa jika Al harus melewatimu sayang?”
“Sumpah demi Tuhan aku tidak merasa marah apalagi
tersinggung. Aku justru bahagia, Ma, gak apa-apa aku didahului. Itu kan sudah
ditakdirkanNya dan memang sudah tertulis di lauhilmafudzNya sejak kita sebelum
lahir kan?”
“Iya sayang. Tapi mama masih berharap semoga di antara
Afdan segera menikahimu sebelum November nanti. Supaya kamu bisa duluan.”
“Aamiin, iya ma, doain aja ya.
“Jadi kamu gak apa-apa kalaupun harus didahului
menikah oleh adikmu sayang?”
“Iya ma, gak apa-apa. Aku malah bahagia ternyata
adikku sudah dewasa dan sudah bisa menentukan jalan hidupnya sendiri.”
“Terimakasih ya nak, kamu harus tetap begitu menjadi
kakak yang bisa dibanggakan. Al pasti bahagia mendengar kamu yang menijinkannya
dengan rela hati.” Setelah obrolan kami selesai, aku lalu pergi ke rumah
Kerabat dekatku untuk membicarakan hal yang sama. Kanza tinggal di rumah untuk
membereskan rumah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar