Selasa, 14 Agustus 2012

Ma...Aku Mau Menikah

Pagi kembali menyapa lewat pendar cahaya berwara putih yang meyelusup diantara celah rimbun dedaunan. Harum aroma melati menyelusup lewat jendela kamar yang baru aku buka. Kuhirup nafas dengan rasa syukur. Betapa banyak bahkan tak terbilang bahagia yang telah diberikan-Nya bagi kami sekeluarga. Aku dan ketiga anakku, Kanza, Al, dan Fakhri.

“Assalamualaikum, Ma…” Suara salam serta ketukan di depan pintu kamarku.

“Wa’alaikumsalam, masuk” Anak laki-lakiku muncul di depan pintu.

“Ma, lagi sibuk gak?” aku hanya menjawab dengan gelengan kepala, sambilmeneruskan aktivitasku melipat selimut dan merapikan tempat tidur. “Ada apa?” tanyaku kemudian.

“Aku ingin bicara, ma” Ucapannya memaksaku untuk menghentikan kegiatanku merapikan kamar. Aku tatap matanya, lewat matanya aku dapat merasakan, dia memang sedang bersungguh-sungguh, berbeda dari kebiasaanya yang bicara ceplas ceplos, sedikit jahil, sedikit iseng.

“Memang mau ngomongin apa sih?”

“Ma, aku…..” anakku menghentikan ucapannya, aku tetap menunggu.

“Ma, aku ..aku…ingin menikah” Ucapannya kali ini betul-betul mengagetkanku. Bukan, bukan ucapannya yang salah, tapi aku yang salah, aku hampir lupa bahwa waktu telah menjadikan anakku tumbuh menjadi pemuda dewasa. Dalam benakku dia masih saja seperti saat-saat dia tertatih-tatih belajar berjalan, terbata-bata belajar bicara, ternyata kini anakku telah tumbuh dewasa.Tanpa kusadari sebutir bening menyeruak dari sudut mataku membuat pandanganku menjadi kabur.

Apa yang disampaikan anakku ini juga membuat aku bingung. Bagaimana tidak, kakak perempuannya belum menikah, laki-laki yang menjanjikan akan menikahinya belum juga memberi kepastian. Bagaimana aku harus menghadapi keadaan ini, permintaan anak laki-lakiku ini tidak mungkin aku tolak, sudah menjadi kewajiban orang tua untuk menikahkan anaknya ketika mereka sudah menginginkannya. Lalu bagaimaa aku harus menyampaikan hal ini kepada kakaknya, anak perempuanku yang pertama. Ternyata tidak mudah menghadapi ini sendiri, pikiranku tiba-tiba menjelajah jauh pada sosok yang sangat aku cintai, ayah mereka yang sedang bekerja di tempat yang sangat jauh. Jika dia ada di sini, tentu aku tidak harus kebingungan sendiri.

“Ma, kok ngelamun sih?”

“Eh.. gak apa-apa, mama hanya terkejut saja”

“Jadi bagaimana, ma?”

“Pada dasarnya mama tidak akan menolak kemauanmu, tapi ngomong-ngomong siapa gadis penakluk itu?”

“Namanya "L", Ma, tinggal di desa tetangga”

“Mengapa kamu ingin menikahinya?”

“Karena saya mencintainya?”

“Hatinya atau fisiknya?”

“Saya mencintai semua yang ada pada dirinya, hati maupun fisiknya”

“Termasuk kekuranganya?”

“Ya, semuanya!!!” Anakku menjawab dengan yakin.

“Al, Jika kau sudah mantap dengan pilihanmu, dan kau pun telah yakin akan mampu menjadi Imam bagi dirinya, mama pasti menyetujuinya?”

“Benar Ma?” Aku hanya mengangguk dengan tegas, memberikan keyakinan padanya tanpa perlu kata-kata.

“Rencananya kapan kalian akan menikah?”

“Insya Allah, bulan November, Ma”

“Secepat itu?”

“Memang kenapa, Ma?” Al terlihat cemas.

“Mama akan meminta Afdan untuk segera melamar kakakmu, kalau Afdan tidak siap juga, Mama akan terima lamaran Reisha”

Pagi semakin putih, Aku semakin resah…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar