Menghitung hari. Semakin dekat waktu pernikahan, semakin Membuat Ilham tak bisa tidur nyenyak. Hatinya begitu mencintai Anisa, namun keadaan sungguh bertentangan. Hari-hari yang ia harapkan menjadi awal kebahagiaan, namun justru menjadi awal masalah.
“Kamu itu Pintar.. Tampan.. Berpendidikan dan dari keluarga yang terhormat. Tak pantas jika menikah dengan Anisa yang hanya Perempuan biasa….”. Kalimat itu yang terus membayang dibenak Ilham. Kata-kata yang keluar dari mulut Ibunya sendiri.Yang membuatnya semakin berfikir panjang untuk menikahi Anisa. Apakah ia akan mematuhi ingin Ibunya, atau mengikuti kata hatinya. Sebuah pilihan yang sulit. Alasan Anisa wanita biasa-biasa saja, sedangkan Ilham tinggi diatas Anisa.
Tidak Seimbang…!!.”
************
“Apa yang kamu cari dari wanita itu? Cantik,Tidak..! Kaya, Juga tidak..! Biasa-biasa saja…!.” Ucap Ibunya ketus.
“seandainya kecantikan dan kekayaan adalah jaminan Syurga, Pastilah aku takan menikah dengan Anisa Bu..!.” Balas Ilham datar.
“Oh…! Jadi kamu kira, Anisa akan menjanjikanmu Syurga??
“Tidak Bu…! Tapi Aku yang akan mendidiknya menjadi Syurga untuku. Duniaku, juga Akhiratku Bu..!.”
“Jadi Kau hendak menikah denganya….!!??.”
“Maafkan Anakmu Bu, Bukan aku tak mau Ta’at denganmu. Tapi aku ingin mencintai wanita atas apa-apa yang diajarkan Rosul kita. Bukan paras cantik dan kekayaan yang menipu.”
“Terserah kamu…! Yang pasti Ibu dan keluarga takan hadir diacara pernikahan kalian…!.” Jawab ibunya kasar. Menutup pembicaraan itu.
******************
Kekuatan cintaya benar-benar utuh. Hingga hari pernikahan itu tiba, acara itu tetap berlangsung. Walau tanpa Ayah dan Ibu ilham yang menolak hadir. Begitulah keutuhan dan keikhlasan Ilham dalam mencintai Anisa. Keadaan dan problematika tak menjadi penghalang. Cinta itu pilihan, kata hati adalah kunci untuk memilih.
“Aku menikah karena Allah. Dan aku telah memilih wanita yang biasa-biasa saja. Untuk bisa Kubimbing, dan supaya dia taat kepadaku. Aku ikhlas mencintai-nya…!.” Ucapnya dalam hati setelah akad pernikahan.
******************
Berpasang-pasang bola mata melirik sinis, saat sepasang suami istri berjalan mesra . bergendengan tangan ditempat Umum. Ilham dan Anisa. Seperti ada sesuatu janggal yang tersimpan dalam tatapan mereka. Penuh tanda Tanya. Namun semuanya ditepis dengan gaya Acuh keduanya. Ilham dan Anisa memilih berlalu dan tidak mempersoalkan hal itu. Meski dibalik samar, Anisa mendengar suara sumbing.
“Tak pantas…! Masa suaminya Tampan, pandai dan berpendidikan tinggi. Tapi, Istrinya wanita yang biasa-biasa saja. Tak ada yang istimewa…!.”
Kata-kata sumbing seperti itu selalu terdengar hampir setiap hari. Namun Ilham selalu memberi ketenangan kepada Anisa. Bahwa tak ada kata “Tak Pantas”. Sudah selayaknya Suami itu diciptakan lebih pandai dari Istri. Untuk bias membimbing istri dunia dan akhirat.
*************
Hari ini Anisa menangis. Lantaran terus-terusan mendegar celaan tetangganya terhadap dirinya. Apakah benar aku ini tak pantas menemani Mas Ilham..!?. Apa aku ini wanita hina..!?.” Anisa menangis. Semakin perih.
“Mas…! Sepertinya aku memang tak pantas menjadi Istrimu..!.”Ia berlari memeluk Suaminya. Ilham.
“Astaghfirullah Istriku…! Apa yang kau ucapkan Barusan…!!.”Bentak Ilham keras.
“Maafkan Aku Mas..! Aku hanya takut tak mampu membuatmu hidup bahagia , dengan semua gunjingan Orang-orang. Aku mencintaimu, tapi aku tak tahu bagaimana membahagiakanmu…!.”Ucapnya terbata-bata. Airmatanya tumpah tak terbendung.
“Istriku Bidadariku….!! Kebahagiaanku adalah, Ketika kamu mendengar kata-kataku. Ketika kamu Taa’t kepadaku. …!.” Jawab Ilham tersenyum. Sambil mencium kening Istrinya.
“Jangan risau…! Allah ada disisi kita. Meski ayah dan ibuku, Semua orang tak setuju dengan kita. Tapi kita punya sesuatu yang besar. Cinta…!!. Anisa tersenyum. Memeluk tubuh suaminya. Benar-benar penuh kehangatan. Anisa tertidur dipangkuan suaminya. Hingga malam benar-benar pekat.
************
Kesetian benar-benar di Uji. Sebesar manakah Keberadaan cinta itu. Belum lama menikah, Ternyata Allah memberikan cobaan kepada Ilham. Matanya buta. Dikarenakan kecelakaan Motor beberapa hari yang lalu. Setelah menjalani Operasi, Ilham dinyatakan Buta Non-Permanen.
Sejak saat itu, segala kegiatan Ilham harus dipantau dan diawasi. Itu menjadi tugas Istrinya. Anisa. Setiap kali Ilham bangun dari tidur, Anisa selalu menuntunya keluar kamar pelan-pelan. Untuk mengambil Handphone saja, Anisa dengan sabar terus berbakti kepada Suaminya. Ilham. Hal sekecil apapun, yang seharusnya bisa dilakukan Manusia normal, kini tak bisa dilakukan ilham. Dan semua itu harus dibantu oleh Anisa. Mulai dari buang Air, Cuci tangan sampai berganti pakaian sekalipun.
Cinta anisa terhadap suaminya benar-benar teruji. Ia Ikhlas dan tetap mencintai ilham dalam keadaan apapun. Setiap pagi, Anisa selalu mengajak berjalan Suaminya keluar rumah. Untuk mendapatakan sinar matahari. Dengan menuntun, Anisa tetap berprilaku mesra didepan Umum. Tak malu dengan keadaan Suaminya. Tak jarang ia bercanda dengan Ilham layaknya seperti waktu baru menikah. Tak ada yang berubah.
“Benar-benar Istri yang Sabar…! Istri terbaik…!.” Bisik-bisik itu terdengar dari kerumunan ibu-ibu dibelakangnya. Saat ia perlahan-lahan membimbing ilham berjalan.
Kini, Semua orang membicarakan Anisa. Membicarakan kebesaran jiwa dan ketulusan jiwanya terhadap suaminya yang Buta. Bagaimana mungkin bisa mencintai Suami yang buta jika bukan Istri yang hebat dan terbaik…..!!.?.” Ucap tetangganya yang dulu selalu mencacinya.
“Sayang……! Apakah kau menyesal dengan keadaanku??.!”Tanya Ilham.
“Wahai Suamiku, Aku lebih menyesal jika kau berkata seperti itu. Tak ada yang perlu kusesali. Aku mencintaimu karena Allah…!.” Jawab Anisa. Bibirnya mengecup kening ilham.
“Sekarang kau dengar sendiri perkataan Orangkan…! Bahwa kau bukanlah perempuan yang buruk. Kini kau buktikan, Bahwa kau adalah yang terbaik…!.”
“Itu semua, Karena Engkau Mas…! Kau yang mendidiku menjadi Wanita yang tulus dan bisa mencintai. Aku ingin menjadi Syurga bagimu. Karena Syurgaku ada pada tanganmu. Izinkan aku berbakti sampai akhir hayatku…!.” Bisik Anisa lirih. Ilham tersenyum dan menangis haru. Istri yang sholihah. Istri terbaik.
***
Anisa sayang…..! Mendekatlah…!.” Panggil ilham dibalik sepi. Anisa meraih tangan suaminya. Tanpa perintah, diciumnya tangan itu.
“Aku selalu ada disampingmu Mas…..!”
“Aku akan bisikan sesuatu untukmu…” Ucap ilham lirih.
“Aku mendengar, dan Aku akan Ta’at…!
Ilham meraih tubuh Anisa. Kemudian bibirnya mengecup keningnya. Dirabahnya pelan-pelan wajah yang halus itu. Hingga beberapa saat, ia benar-benar merasakan kekuatan cinta dari istrinya. Perlahan ia mendekatkan Lisanya kearah telinga Anisa. Suasana masih hening.
“Aku Mencintaimu Istriku…! Izinkan Aku Ridho kepadamu, Semoga Syurga adalah sebaik-baik tempat singgahmu Nanti…!.”
“Subhanallah…!!! Tahmid Anisa terlepas. Ia menangis mendengar doa suaminya. Begitu indah. Ia memeluk erat-erat tubuh Suaminya. Hingga beberapa saat. Hingga tengah malam menyambut. Maka keduanya bertasbih menyempurnakan ibadah dimalam itu. Jadilah cinta seluas samudra. Yang terbangun dari rasa syukur.
Allah-pun menjadi saksi malam itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar