Menjelang hari pernikahanya Faiz masih sering termenung. Lantaran ada penyesalankah untuk meminang Aisyah?. Matanya menerawang jauh ke langit-langit kamar.
Inilah detik-detik mendekati setengah kesempurnaan agamanya. Sebentar lagi ia akan mempunyai tanggungan seorang istri. Menjaga, menafkahi serta melindungi lahir dan batin. Menikah.
“Apakah yang membuat aku ragu??.” Ia bertanya pada dirinya sendiri . Ada bisikan kecil yang menggelayutinya. Akankah ada penyesalan dengan pilihan hidupnya nanti?.
Aku niatkan ini karnamu ya Allah..!!.”. ia menarik nafas panjang. Dimantapkanya hatinya untuk siap menerima resiko setelah pernikahanya nanti. Hakikatnya menikah bukanlah mencari kebahagiaan, tapi menciptakan kebahagiaan. Keindahan itu diciptakan, bukan pencarian.
“Bismillah…!!! Aku siap menikah karena-Nya.
Hari pernikahan
Hari yang dinantikan itupun tiba. Aisyah dengan gaun pengantin putih semampai duduk manis diantara sofa yang berhiaskan pernak-pernik kuningan. Sang raja dan sang ratu duduk berdampingan dengan mesra.senyum mengembang diantara lisan-lisan yang tak pernah kelu bertasbih. Ratusan tamu yang bergantian hadir bertubi-tubi mengalirkan doa untuk kelanjutan rumah tangga mereka.Hari yang tak akan terlupakan.
Sehari, Dua Hari , Seminggu, Dua Minggu.. itulah keindahan bulan madu yang akan terus di ingat bagi kedua pasangan itu. adapun setelahnya, kembali pada aktifitas masing-masing. Faiz kembali kepada kewajibanya sebagai suami mencari nafkah. Sedangkan Aisyah setia menunggu kepulanganya serta menjaga Harta suami di rumah.
Satu Tahun Kemudian
Seorang gadis mungil kini menjadi hadiah bagi mereka. Ya awal dari kebahagiaan rumah tangga. Buah hati yang lama dinanti kini memberikan warna baru dalam rumah tangga mereka . buah hati itu berwajah manis, matanya yang lentik. Bibirnya yang menggeliat-liat hebat saat tak ditemukanya dot susu. membuat pemandangan semakin menggemaskan. Ya , sangat lucu.
Siapa sangka kelahiran buah hati menjadi awal dari kebahagiaan. Justru kehadiranya sedikit menjadi problema. Sistem pendidikan yang akan diberikan antara Faiz dan Aisyah kerap sekali menjadi perdebatan yang mewarnai rumah tangga. Perbedaan pola pikir-pun tak jarang memancing keributan.
***
Hari ini Faiz pulang sedikit malam. Setelah memasukan motor kedalam rumah dilihatnya sikecil yang tengah menagis keras. Aisyah mencoba menangkanya dengan cara memberi asi.
“Kemana saja Toh Mas…!! Apa nggak lihat si Ara nangis terus sejak pagi..!!.?. Aisyah menghadapakan wajahnya kearah suaminya.Namun Faiz, yang mungkin dalam keadaan lelah dan belum punya Mood untuk menjawab, memilih berlalu kekamar mandi untuk membersihkan badan. Sekeluarnya dari kamar mandi, percekcokan akhirnya-pun terjadi. Aisyah yang merasa tak diperhatiakan menuntut untuk memberi perhatian lebih. Sedangkan Faiz, yang merasa mendapat teguran disaat yang kurang tepat dan lelah membuat Emosinya naik. Kedua-duanya merasa punya hak untuk saling dihormati. Maka terjadilah percekcokan malam itu.
Keributan dalam rumah tangga mereka tak terjadi sekali atau dua kali. Tapi sudah tak terhitung. Masalah pekerjaan, rumah mendidik anak. Kerap sekali menjadi bahan yang menyulut keributan. Namun rumah tangga merka tak selalu di lalu dengan keributan juga. Ada masa-masa indah yang justru lebih banyak mereka lalui. Keributan rumah tangga ada disaat kedua belah pihak tak menumakan titik temu dalam pola pikir mereka.
*****
Pagi ini Aisyah merasa jengkel dengan suaminya. Tanpa pamit tanpa salam Faiz langusng pergi ke kantor. Ya mungkin karna ia sedikit kesiangan dan buru-buru. Tapi ketika yang biasanya, yaitu mencium kening Aisyah pagi ini tak terlaksankan. Aisyah terduduk penuh dongkol. Bukan masalah ciuaman untuk nya. Tapi takut keharmonisan dalam rumah tangganya hilang. Ia menghela nafas panjang.
Malam harinya saat suaminya pulang. Mungkin ini kesempatan yang tepat untuk menegurnya. Lantaran banyak sekali kekurangan dan perubahan pada Fiaz akhir-akhir ini.
“Mas…! Bisa kita bicara..?.” Aisyah memulai pembicaraan sembari menyuguhkan kopi hangat.
“Hmm silahakn dek..!!.” Faiz menjawab dengan senyuman datar.
“Kenapa Mas akhir-akhir ii berbeda? tak seperti dulu yang kukenal..!!.”
“Maksudnya..??!.” Faiz menyangkal.
“Sebenarnya adek juga nggak mau ngungkit-ungkit masalah mas..! tapi untuk keberlangsungan rumahtangga kita ya baiknya Mas segera berubah..!! ya meski Adek tahu, Adek juga kadang sering acuh dan menjengkelkan di mata mas..!!” Aisyah tertunduk.
“Maksud adek Apa Toh..??.” Faiz menarik tangan istrinya sambil tersenyum.
“Intinya ada ketidakcocokan antara sikap Mas di Hati aku..!!.” Aisyah tertunduk lagi. Faiz mengreyitkan dahinya. Diam.
“Begini saja Mas..! Nanti adek tuliskan semua sikap-sikap Mas yang tak Enak adek rasa selama ini..! Begitupun Mas..! Mas juga tuliskan semua hal yang tak disukai dari Adek.. “ kita tukarkan masing-masing besok pagi. Aisyah menjabarkan. Akhirnya Faiz setuju. Dan keduanya kembali kekamar untuk menulis daftar kesalahan.
*****
Pagi tiba. Keduanya sepakat untuk memberikan hasil rangkuman daftar kesalahan atau sikap-sikap yang masing-masing tidak disukai. Aisyah telah siap dengan selembar kertas penuh dengan daftar kesalahan. Faiz duduk tenang dengan memegang selembar kertas. Selang beberapa menit kemudian, keduanya saling menukarkan kertas.
Faiz mulai membuka kertas kesalahan itu. dan hatinya bagitu kaget melihat begitu banyaknya daftar kesalahan dan sikap yang tak disukai istrinya . Hampir lima puluh daftar kesalahan. Perlahan ia mulai membacanya.
Untuk suamiku Tercinta.
Daftar sikap dan keslahan :
1.Cuek
2.kadang suka marah
3.kurang perhatian
4.kurang bisa mengerti
5.terkadang Egois
6.sering pulang telat
7................ (dst)
Oh Masyaallah…!! Faiz menangis. Tak sanggup ia meneruskan daftar kekurangaya itu. ia tersedu-sedu dihadapan Istrinya. Hatinya semakin sakit ketika kembali melihat daftar kekurangan itu. bagitu banyak kekurangan yang ia miliki di hadapan Istrinya sendiri. Ia menarik istrinya dan mencium keningya dengan menangis.
Aisyah terkaget. Setelah ia membuka isi kertas yang ia dapatkan dari suaminya itu. tak satupun tulisan yang ada didalamnya. Tak satupun kesalahan atau kekurangan dari sikap dan cara hidupnya tertulis. Kertas kosong. Ia menatap suaminya lekat-lekat. Ada tanda Tanya didalam hatinya. Kembli ia memastikan untuk menapaki kertas itu. tapi tetap saja kosong.
“Mas…!! Apa maksudmu memberiku kertas kosong ini??.” Suaminya hanya menggeleng.
“Mas..!! Mas fakir ini main-main apa?? Adek serius, ini untuk perubahan kita bersama setelahnya..!” ia duduk tersinggah di bawah kursi. Menatap ekat-lekat wajah suaminya itu. tanganya erat-erat menggenggam tangan suaminya.
“Tidak sayang..!! Itu tidak main-main..!! .” Faiz menangis mencium kembali kaning istrinya.
“Kau dimataku begitu sempurna..! kau tak ada cacatnya dimataku..! kadang kau memang banyak salah, tapi itu bukan kekuranagmu. Itu adalah tugasku untuk membimbingmu..! Aku Mencintaimu Tanpa Syarat ..! tak pernah mengharapkan kesempurnaanmu..!.”.” air matanya mengalir deras.
“Ingat sayang..! diawal pernikahan kita, aku sudah memantapkan hatiku untuk menerimamu apa adanya kamu. Aku cinta kamu seutuhnya. Aku cinta kamu, cinta kekuranganmu.!!.”
Subhanallah…!! Tahmid Aisyah terlepas. Airmatanya tak mampu terbendung. Mendengar ucapan suaminya yang begitu indah ia dengar. Tanganya bergetar, hatinya berdetak kencang. Ada kekuatan yang meluluhkan hatinya. Membuat ia semakin cinta kepada suaminya. Ia duduk tersimpuh dan segera memeluk suaminya.
“Ya Allah..!! Apa yang tadi suamiku ucapkan..! apa aku salah mendengar. Begitu indah ya Allah..!. kalimat tasbih kembali meluncur dari lisanya. Pelukanya semakin kuat dan semakin kuat. Tak ingin ia melepaskan pelukan itu. Faiz menangis bersama pelukan itu. dibelainya kepala sitrinya dengan penuh rasa cinta.
“Maafkan aku mas..! Aku telah salah menilaimu..! Kau syurgaku, dan kau adalah pemimpinku. Aku mencintaimu setulus hati Mas..! Maafkan aku..!!.;’ tangisan itu kembali membanjiri pipinya disela-sela pelukan erat yang enggan lepas. Faiz semakin erat mempertahankan pelukanya. Tak ingin rasanya ia melepaskanya. Tak ingin ia membiarkan nuansa kasih ini hilang.
***
“kamu tetap cantik seperti malam pengantin dulu dek…!!!.” Faiz mulai menggoda merayu. Aisyah tersenyum malu. Faiz kembali membelai mesra ubun-ubun istrinya itu. kemudian ia memulai menyapu airmata yang membasahi pipi .
“Kau Lebih Cantik Dari Bidadari Di Syurga Sayang…….!!!!.”. Aisyah tersenyum bahagia. Ternyata Suaminya masih tetap romantis. Keduanya beradu pandangan yang hangat. Pandangan cinta dan kasih sayang. Tatapan yang penuh dengan nuansa cinta . suasana begitu hangat, menyihir dua hamba allah ini kepada bunga-bunga cinta yang kembali bertunas dalam rumah tangga.
“Kau Juga Lebih Tampan Dari semua laki-laki Di Bumi Ini Cinta…!.” Balas Aisyah Manja.Keduanya –pun bertasbih menyempurnakan ibadah.
Oh Masyaallah…!! Faiz menangis. Tak sanggup ia meneruskan daftar kekurangaya itu. ia tersedu-sedu dihadapan Istrinya. Hatinya semakin sakit ketika kembali melihat daftar kekurangan itu. bagitu banyak kekurangan yang ia miliki di hadapan Istrinya sendiri. Ia menarik istrinya dan mencium keningya dengan menangis.
Aisyah terkaget. Setelah ia membuka isi kertas yang ia dapatkan dari suaminya itu. tak satupun tulisan yang ada didalamnya. Tak satupun kesalahan atau kekurangan dari sikap dan cara hidupnya tertulis. Kertas kosong. Ia menatap suaminya lekat-lekat. Ada tanda Tanya didalam hatinya. Kembli ia memastikan untuk menapaki kertas itu. tapi tetap saja kosong.
“Mas…!! Apa maksudmu memberiku kertas kosong ini??.” Suaminya hanya menggeleng.
“Mas..!! Mas fakir ini main-main apa?? Adek serius, ini untuk perubahan kita bersama setelahnya..!” ia duduk tersinggah di bawah kursi. Menatap ekat-lekat wajah suaminya itu. tanganya erat-erat menggenggam tangan suaminya.
“Tidak sayang..!! Itu tidak main-main..!! .” Faiz menangis mencium kembali kaning istrinya.
“Kau dimataku begitu sempurna..! kau tak ada cacatnya dimataku..! kadang kau memang banyak salah, tapi itu bukan kekuranagmu. Itu adalah tugasku untuk membimbingmu..! Aku Mencintaimu Tanpa Syarat ..! tak pernah mengharapkan kesempurnaanmu..!.”.” air matanya mengalir deras.
“Ingat sayang..! diawal pernikahan kita, aku sudah memantapkan hatiku untuk menerimamu apa adanya kamu. Aku cinta kamu seutuhnya. Aku cinta kamu, cinta kekuranganmu.!!.”
Subhanallah…!! Tahmid Aisyah terlepas. Airmatanya tak mampu terbendung. Mendengar ucapan suaminya yang begitu indah ia dengar. Tanganya bergetar, hatinya berdetak kencang. Ada kekuatan yang meluluhkan hatinya. Membuat ia semakin cinta kepada suaminya. Ia duduk tersimpuh dan segera memeluk suaminya.
“Ya Allah..!! Apa yang tadi suamiku ucapkan..! apa aku salah mendengar. Begitu indah ya Allah..!. kalimat tasbih kembali meluncur dari lisanya. Pelukanya semakin kuat dan semakin kuat. Tak ingin ia melepaskan pelukan itu. Faiz menangis bersama pelukan itu. dibelainya kepala sitrinya dengan penuh rasa cinta.
“Maafkan aku mas..! Aku telah salah menilaimu..! Kau syurgaku, dan kau adalah pemimpinku. Aku mencintaimu setulus hati Mas..! Maafkan aku..!!.;’ tangisan itu kembali membanjiri pipinya disela-sela pelukan erat yang enggan lepas. Faiz semakin erat mempertahankan pelukanya. Tak ingin rasanya ia melepaskanya. Tak ingin ia membiarkan nuansa kasih ini hilang.
***
“kamu tetap cantik seperti malam pengantin dulu dek…!!!.” Faiz mulai menggoda merayu. Aisyah tersenyum malu. Faiz kembali membelai mesra ubun-ubun istrinya itu. kemudian ia memulai menyapu airmata yang membasahi pipi .
“Kau Lebih Cantik Dari Bidadari Di Syurga Sayang…….!!!!.”. Aisyah tersenyum bahagia. Ternyata Suaminya masih tetap romantis. Keduanya beradu pandangan yang hangat. Pandangan cinta dan kasih sayang. Tatapan yang penuh dengan nuansa cinta . suasana begitu hangat, menyihir dua hamba allah ini kepada bunga-bunga cinta yang kembali bertunas dalam rumah tangga.
“Kau Juga Lebih Tampan Dari semua laki-laki Di Bumi Ini Cinta…!.” Balas Aisyah Manja.Keduanya –pun bertasbih menyempurnakan ibadah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar