Selasa, 19 Juni 2012

Gadis Kecilku

Halo calon gadisku yang lugu, sedang apa sayang? Mungkin kau masih senang-senangnya di langit sana ya. Bermain dengan teman-teman kecilmu. Aku tau bahagia pasti rasanya. Aku sebagai calon ayahmu tidak khawatir kok sayang karena aku yakin para malaikat Tuhan pasti sedang menjagamu dengan baik di sana.
Calon gadisku, tahukah kamu, aku malah mengkhawatirkan dirimu kelak jika lahir di dunia kejam ini. Kau tahu tidak tentang kisah teman-temanku yang walau mereka dari keluarga baik-baik, tapi tetap saja mereka masih bisa terjerumus dalam pergaulan yang salah. Aku tak ingin kelak kau menjadi seperti itu calon gadis kecilku.
Saat ini aku sedang menempuh studi di fakultas kedokteran. Aku memilih jurusan ini untuk dirimu calon gadis kecilku karena nanti aku akan mengambil spesialis anak. Aku tak ingin salah langkah dalam membesarkanmu. Aku ingin kau dapat tumbuh menjadi gadis manis yang pintar. Pintar dalam bergaul, pintar dalam menjalankan ibadahmu, dan pintar dalam menyelesaikan semua masalah yang akan kau hadapi kelak.
Aku tak ingin aku salah mendidikmu sayang. Aku tak ingin kau menganggapku ayah yang terlalu sibuk dengan diri sendiri sehingga tidak mempedulikan masalah-masalah yang sedang kau hadapi. Aku tak ingin menjadi seorang ayah yang hanya akan ada penilaian buruk jika kau mendengarkan kata “ayah”.
Selain itu masih banyak kekhawatiranku yang lain tentang dirimu kelak calon gadis kecilku. aku takut kau salah pergaulan. Aku tak ingin kau seperti teman-temanku yang salah mengartikan rasa sayang ibu juga ayyahnya. Ibu yang selalu membelanya di saat dia salah, ayah yang selalu khawatir malah membuat dia tidak belajar dari kesalahan. Terus saja melakukan kesalahan karena ia yakin jika ia melakukan kesalahan lagi, ibunya akan selalu membelanya dari kemarahan ayah. Lalu marah di saat ayahnya marah, malah ia semakin memberontak. Padahal marah adalah tanda sayang. Tetapi banyak yang salah mengartikannya calon gadis kecilku. Di kuliah aku belajar tentang emosi. Marah bisa ditunjukan dalam bentuk assertion. Assertion adalah mengungkapkan sesuatu secara tegas, apa adanya, dan tidak menyakitkan. Lebih baik tegas setiap hari demi kebaikan, daripada diam saja lalu sekalinya berbicara hanya untuk marah ketika kesalahan sudah menjadi besar. Aku tak ingin kau mengecapku sebagai ayah yang pemarah calon gadis kecilku.
Aku berpikir untuk menuliskan saja apa yang sebenarnya aku khawatirkan sayang. Aku ingin menulis sebuah buku untukmu. Tentang kisah masa mudaku, tentang masa muda teman-temanku, dan tentang kesalahan masa mudaku untuk kau ambil pelajaran kelak. Aku takut kelak aku lupa bahwa aku tak luput dari kesalahan dan memaksamu untuk menjadi sempurna.
Aku tak ingin banyak berbicara, aku takut kau akan melabeli diriku ini sebagai seorang ayah yang bawel. Mungkin dengan kau membaca tulisan-tulisanku kau lebih dapat memahaminya, betapa inginnya diriku untuk memberikan yang terbaik untukmu.Salam rindu, calon ayahmu yang selalu menanti dan mengkhawatirkan dirimu.


kau tahu, bila kau diberi kesempatan untuk mengikuti seluruh gerak-gerik Ibumu ketika mengandungmu, melihat seluruh sketsa hidup yang ia jalani bersamamu di perutnya, kuyakinkan kepadamu bahwa ia melakukan segala hal yang terbaik yang ia bisa lakukan untuk menjagamu,merawatmu, memberikan segala yang terbaik untukmu


Tidak ada komentar:

Posting Komentar