Selasa, 05 Juni 2012

Tarian Kunang-Kunang


Aku tepekur menatap senja, senja yang sama di bukit ini. Namun terasa berbeda karena kau tak ada disampingku. Ingatkah dulu kita habiskan senja disini, menunggu kunang-kunang muncul di kegelapan, lalu kita akan menari diantara cahaya ribuan kunang-kunang. Kini yang ada dalam genggamanku, hanya kunang-kunang yang sudah mati, tak bercahaya, tidak bernyawa. Sama seperti jiwaku, yang tak lagi memiliki cahaya semenjak kepergianmu.
” Meski tak mampu menjadi bintang yang menyinari bumi, jadilah kunang-kunang yang mampu menerangi sekitarmu.” itulah yang selalu kau katakan padaku, ketika kita berlomba menangkap kunang-kunang kemudian melepaskannya kembali.
Namun senja tak lagi sama, bukit meranggas, kunang-kunang tak pernah datang lagi. Mereka telah menjadi korban globalisasi, dimana tak ada tempat untuk hewan kecil seperti mereka. Hutan semen menjadi pengganti, namun tak mampu memberi keharuman pucuk daun yang ku hirup setiap pagi saat kecil.
Dan kau, memilih pergi ke negeri para pemimpi. Meninggalkan aku disini, dalam penantian yang tak memiliki tepi.
aku menuruti kata-katamu, untuk menjadi kunang-kunang. Setiap hari, kuabdikan diriku bagi desa kecil ini. Mengajari anak-anak tentang dongeng kunang-kunang yang sering kau perdengarkan dulu. Dan kala senja tiba, aku pergi ke bukit. Menanti malam, lalu menari untuk memanggil kunang-kunang, meski mereka tak pernah datang, namun aku akan terus menari. Walau pepohonan sudah tidak ada lagi, berganti ilalang dan rumput teki. Aku akan tetap menari, aku yakin kunang-kunang pasti kan datang lagi. Sama seperti keyakinanku padamu, bahwa kau akan kembali, suatu hari nanti.
akhirnya kunang-kunang itu datang! yah, setelah tarianku yang panjang, dia datang. Tapi kunang-kunang itu hanya sendiri, kuputuskan untuk menyimpannya. Merawat dan menjaganya, agar ketika kau datang nanti, aku dapat memperlihatkannya padamu. Masih ada yang tersisa dari memori masa kecil kita, kunang-kunang dan tarianku yang tak pernah berubah.
Jiwaku tak pernah berubah, namun kunang-kunang yang kujaga semakin menua. Sama seperti jasadku yang merapuh, lapuk di makan waktu. Kau memang datang, hanya sekali. Membawa serta seorang perempuan yang menggendong anak kecil. Kepada seluruh desa, kau perkenalkan mereka sebagai keluarga kecilmu yang bahagia. Kau sama sekali tak mengingatku, bahkan kau pun lupa pada kunang-kunang yang pernah menerangi malammu.
Aku berlari ke bukit, meneteskan airmata terakhirku untukmu. Kubawa serta kunang-kunang malang itu, kulepaskan ia pada malam yang memelukku. Namun ia terpuruk jatuh tak mampu terbang, sayapnya patah karena aku memegangnya terlalu erat, cahayanya meredup kemudian hilang di telan kegelapan. Maafkan aku kunang-kunang, sayapku pun telah patah.
Aku tak dapat lagi terbang membawa harapan itu kepadamu, karena harapan itu tak pernah ada padamu. Aku menari, dan terus menari. Aku ingin melupakanmu, melupakan semua memori itu. Maka aku terus menari, dan terus menari, hingga kurasakan kaki dan tanganku mengecil, seluruh tubuhku membulat, dari punggungku keluar sayap, dan di bawah perutku muncul cahaya. aku terus menari, sampai kurasakan tubuhku semakin ringan, kemudian melayang, aku terus menari hingga bumi telah jauh kutinggalkan.
Yah, aku akan terus menari hingga jauh melayang, meninggalkanmu yang telah memiliki kehidupan baru, tanpaku, tanpa kenanganku. Aku akan terus menari hingga mencapai bintang, menyerahkan cahayaku pada rembulan yang telah menemaniku menantimu bersama kunang-kunang.
#PANDU#

Tidak ada komentar:

Posting Komentar