Bila ada kata yang mampu menyeruak dari bibir ini. Saat segenggam debu menjadi sari. Saat sebilah kenangan menjadi mati. Masih kuingat jelas garis-garis wajahnya, yang membentang ketegasan dan kerja keras. Dalam saat yang sempit, mungkin ia bukan siapa-siapa. Dalam pandang bola mata orang lain, mungkin ia hanya orang asing. Tapi tidak bagiku. Selama bayu masih berhembus di riak angin. Selama api masih dihangus kepingan air. Selama nafas masih dikembang kehangatan. Kata itu masih kuat megahnya, menelesak di relungku. Hingga ia beranjak naik di ujung lidah. Menunggu secercah keberanian—atau ungkapan keikhlasan? Atas sebuah masa lalu, yang masih dilamun badai dalam gerah. Aku ingin ucapkannya. Sekalipun mungkin tak bisa lagi kembalikan sahajanya. Ia hanya sekelumit kata yang tersusun di ruang batinku—
“Aku sayang, Ayah.”
dan tak mampu mendengung.
***
***
Ada sehelai form yang harus kuisi hari itu. Pertanyaan pertama, kedua, ketiga…terakhir. Pertanyaan terakhir. Terhenyak, aku tertegun beberapa saat sebelum akhirnya kutorehkan sehelai kata sebagai jawaban.
“Orang yang menjadi idolamu—”
Itu adalah bentuk pernyataan dari pertanyaan dalam sehelai form yang kuisi 10 menit yang lalu. Aku tertunduk, menanti kakak tingkat di hadapanku menyelesaikan kalimatnya. Hembusan napas panjang kuambil untuk menenangkan hatiku.
“—adalah Ayah,” ia mengernyit singkat, “Kenapa?”
Aku mendongak menatap wajah kakak tingkat itu. Jelas sekali kudengar nada bingung dalam suaranya. Salahkah? batinku berseru gelisah. Tapi bukan seonggok kebenaran atau salah yang menderu gelisahku. Aku hanya tidak tahu bagaimana menemukan kata yang tepat untuk menjawab tanya singkatnya. Kenapa?
“Karena,” bibirku bersuara lirih, “Karena—”
“Harusnya jawaban yang kamu tulis Nabi Muhammad SAW, kan? Beliau yang harus menjadi suri tauladan kita.”
Kakak itu memotong jawabanku. Tidak, bukan itu yang membuatku gelisah, atau kesal? Tidak pernah kutahu, mengapa mataku tiba-tiba mengabur. Cengeng! seruku dalam hati. Namun, tak ada seserpih pun hal yang bisa membuatku menghentikan tetesannya. Aku merasakan lubang besar dalam dadaku. Apa itu Ayah? Kenapa harus kutulis kata itu sebagai jawaban? Sakit, entah mengapa ada sesayat rasa sakit yang menganga dalam diriku, di tempat yang tak pernah jelas letaknya. Bukan, bukan karena aku terlihat sangat tolol dengan jawabanku. Bahkan tak sedetikpun aku ingin membantah, bukankah pertanyaan itu bersifat subjektif? Sungguh, aku tidak ingin membantah demikian. Kubiarkan bulir-bulir itu semakin jatuh,
“Karena ayah adalah idolaku.”
Tidakkah kakak ini tahu? Saat itu adalah saat di mana aku ingin membuka hatiku lagi. Aku ingin mengenalnya lagi, arti dari sebuah kata ayah. Sebuah arti yang menghilang dalam pikirku—bahkan jiwaku—selama dua tahun ini. Sebuah arti yang tidak lagi kutemukan letaknya, naungannya. Badai apa yang sudah menghapusnya dalam nuraniku? Iya, badai itu. Badai yang memporak-porandakan peganganku, yang membuatku meluncur dalam jurang.
Tidak tahu kah kakak ini? Setelah akhirnya bergelung selama dua tahun dalam kecewaku, aku menyebut kata itu lagi, ayah. Namun, apa yang ia hamparkan untuk menyanggah jawabanku membuatku semakin terbelah. Salahkah bila ia tetap menjadi idolaku, setelah semua hal yang terjadi dalam keluarga kami? Salahkah bila aku ingin tunjukkan pada diriku, masih ada segenggam hormat untuknya? Bahwa ia akan selalu menjadi panutanku?
Mungkin kakak ini memang tidak tahu. Sebab ia terlahir dalam lingkungan islami yang membesarkannya. Sebab ia memiliki keluarga yang sempurna. Atau sebenarnya aku iri sebab ia memiliki sosok itu, yang lebih baik dari sosok yang kumiliki, ayah.
Ayah adalah idolaku. Ayah nomor satu yang kukenal semenjak aku kecil. Aku paham benar asinnya kehidupan yang harus beliau taklukkan. Aku paham benar rembesan keringat yang tak dihiraukannya untukku. Aku paham benar besarnya rasa sayang yang beliau limpahkan padaku. Aku paham benar, lebih dari paham orang lain pada sosok ayah. Sebab aku anaknya—dan beliau adalah ayahku.
Ayah adalah orang yang mengajarkanku arti dari sebuah kehormatan. Arti dari kerja keras. Beliau yang selalu menjadi alasanku untuk tetap tegar. Ketika yang ditabur untuk menjadi lauk makan malamku hanya butiran garam. Ketika yang ia bangun untuk menaungiku dari panas dan hujan hanya gedhek1) rapuh yang dilapisi bekas wadah semen. Ayah tetap menjadi ayah nomor satu, ayah terbaik yang kupunya. Ayah yang memaksaku rajin mengaji, ketika aku asyik bermain di halaman beralas tanah. Ayah yang mengumandangkan adzan di gubuk sederhana kami, sebelum memimpin menjadi imam. Ayah yang mengenalkanku pada Nabiku. Ayahku.
Begitu besar hormatku pada beliau. Begitu sayang aku pada raga itu. Raga yang selalu melindungiku. Raga yang setiap detik berjuang memberikan kenyamanan yang lebih layak setiap harinya. Sosok yang membuatku membuka mata pada dunia, dunia yang sebenarnya. Begitu inginnya aku memiliki sosok itu sampai akhirku nanti. Begitu inginnya aku dibimbingnya lebih lama lagi, tentang arti sebuah kejujuran, keteguhan, kekuatan, dan rendah hati.
Ayah menjadi idola-ku yang sempurna. Sesempurna itu, sempurna dalam kesederhanaan yang diusungnya, sempurna dalam kegigihannya, sempurna dalam garis-garis tegas wajahnya.
Sampai saat itu datang. Saat tak lagi kutemukan butiran garam-garam kasar ditabur di atas nasi putihku. Saat kulihat tembok-tembok tebal berdiri kokoh menaungiku. Saat lantai yang kupijak menjadi keramik-keramik yang dingin. Segalanya mulai berubah. Rumahku, keluargaku, ayahku.
Tahun itu menjadi hari-hari berat dalam hidupku. Lebih berat rasanya daripada terbaring di atas ranjang reot di lantai tanah. Ketika aku mulai tak mengenal lagi rumah untuk kembali. Ketika sebuah rumah akhirnya hanya menjadi bangunan mati untuk beristirahat, yang justru menambah keletihan. Pertengkaran-pertengkaran tak berguna, saling menuduh, saling tak percaya, saling kesal, saling marah. Muak!
Aku muak dengan semuanya, dengan-nya. Aku muak dengan hidupku. Tak lagi kumengerti arti dari kehangatan sebuah keluarga, dan aku menyalahkan dia. Untuk pertama kalinya sejak aku lahir, aku bosan bertemu dengannya, aku enggan bercakap dengannya, aku tak ingin ia pulang. Rasa senang yang ganjil menerpa dadaku setiap ia berangkat ke pulau sebelah untuk bekerja, merantau. Senang yang ganjil semakin menderu setiap tak kutemui wajahnya di rumah. Rasa senang yang membuatku semakin terpuruk.
Aku kehilangan ayahku. Ia digantikan oleh sosok yang tak pernah kukenal. Aku pun ikut mati, menjadi sosok yang tidak ia kenal. Kami menjadi orang asing, satu sama lain.
Kecewa, marah, kesal, kacau. Aku dan ayah tak lagi memiliki ikatan. Ikatan itu menjadi buram, menjadi hampa, menjadi tak punya jiwa. Tak ada yang bisa kami lakukan selain saling menyalahkan. Aku menyalahkan dia karena mengacaukan hidupku, membuat ibuku terisak setiap malam, membuat kakakku tertekan setiap waktu. Ayah menyalahkanku karena aku tak lagi belajar dengan benar, tak lagi sekolah dengan benar, tak lagi bersikap dengan benar, tak lagi bisa diatur. Tak ada yang menjadi penengah diantara kami. Kupikir segalanya telah hancur, dan terlambat.
Sampai aku menjadi dewasa. Dan mengerti.
Tidak akan ada yang bisa membuatku kembali ke masa lalu. Tidak ada yang akan berubah jika aku hanya berdiam diri, menunggu seseorang untuk mengubah hidupku. Jauh dalam lubuk hatiku, mungkin rasa itu bukan kecewa, mungkin rasa itu bukan benci. Sebab di sela ketiadaan sosok ayah di rumah yang selalu menumbuhkan perasaan damai yang ganjil, aku terisak. Mungkin aku rindu, ah bukan mungkin tetapi memang benar adanya. Aku merindukan ayahku, sangat merindukan ayah.
Aku bisa memugar masa lalu, dengan ikhlasku. Aku tidak bisa memaksa ayah kembali menjadi seperti dulu. Aku tahu bukan itu yang aku mau, tapi menerima beliau. Ketika kuhubung-hubungkan masa lalu yang merobohkanku itu, baru kutahu satu hal. Segala yang terjadi dalam hidupku membuatku menjadi kuat. Segala rasa sakit itu, rasa kecewa itu, meruntuhkan kelamahanku. Aku belajar untuk tegar, untuk bangkit dari sebuah salah, dari sebuah keterpurukan.
Kucoba benahi hidupku, belajar dengan baik, menata hidup lebih baik. Perlahan segalanya menjadi terbuka. Meskipun pertengkaran itu masih terdengar, tak lagi aku menenggelamkan diri dalam persepsi negatif itu. Semua ini yang akan menjadikan aku lebih kuat, dan lebih kuat lagi.
Ayah akan selalu menjadi idolaku. Sebab ia yang sedari awal mengenalkanku pada kebaikan, yang kutiru dan membangunku. Sebab ia yang mengenalkanku pada hidup yang sesungguhnya. Mengenalkankaku pada rasa hormat, kecewa, bahagia, sedih, bangga, pilu, dan ketegaran. Mungkin kami hanya tidak saling memahami, mungkin aku bukan anak yang sempurna, mungkin ayah bukan ayah yang sempurna. Tapi kami memang tidak membutuhkan orang yang sempurna.
Kami hanya butuh seseorang yang mampu mencintai kami dengan sempurna, keluarga.
Sebab ia tak pernah berhenti mengajarkanku arti hidup. Meski dengan caranya yang lain, yang tak sanggup kubayangkan sebelumnya dalam sinaps pikirku. Meski ia tak pernah benar-benar menjadi sempurna.
Ayah adalah ayahku. Ayah yang mencintaiku dengan sempurna.
“Aku sayang Ayah.”
***
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar