Senin, 04 Juni 2012

Sepotong Malam Bersamamu


Lantunan jangkrik berjingkrak menggemparkan malam sunyi. Sayup-sayup terdengar pula komunitas katak saling berbalas pantun. Dari kejauhan tampak burung hantu bertengger bijaksana diatas dahan akasia. Matanya tajam, siap menerka para pengerat yang tak awas sewaktu mengais batang padi.
Pohon-pohon menari anggun tertiup sang bayu. Pucuk dahannya tampak melambai-lambai, menyapa siapapun yang tak sengaja menatap. Purnama pun masih tersenyum seperti biasa. Setia menjadi pembeda gelap bagi sekawanan makhluk-makhluk nocturnal yang bermandikan berkas sinarnya.
Jantungku masih berdegup saat bumi malam berkisah. Aku termangu sunyi di bibir jendela. Tampaknya suara-suara penjaga malam tak mampu memecah sepiku. Perlahan kubuka jendela. Tanpa tedeng aling-aling, semilir angin malam langsung datang menyerang. Sejuk setengah dingin.
Kubuang jangkar pandanganku jauh-jauh. Mataku menerobos kelok-kelok aliran sungai, membentang persawahan, dan memaku cakrawala. Semuanya terlihat indah dan sempurna. Seperti yang telah digariskan oleh-Nya. Maktub, kataku.
Tapi pikiranku tidak disini, tidak dalam tempurung kepalaku. Ia pergi mengembara, menerawang jauh mengangkangi periodisasi waktu. Seolah-olah waktu hanyalah karet gelang yang menyusut dan merenggang.
Aku menggali kembali memori yang telah usang. Meniup debunya dan mengusapnya supaya tampak lebih nyata. Aku pun berandai kata, seolah jadi sutradara di masa depan. Menaruh angan-angan, pada segelas coklat panas yang manis, dan pada segelas jamu brotowali yang pahit.
Entah mengapa atau bagaimana, lagi-lagi pengembaraanku berpulang padamu. Pada gadisku yang tersenyum saat menawariku secangkir air minum. Dituangkannya secara anggun, air teh poci itu, mengalir bak air terjun mengisi cekungan dalam cangkir. Istirahatlah, katamu.
Dan kau pun menemani malamku. Mengisi nada dalam sunyiku. Berbagi celoteh dalam secangkir teh. Dalam pikiranku, lagi-lagi kau berhasil membuatku tersenyum.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar