Minggu, 10 Juni 2012

Kuleburkan Perjakaku

“Tanggal 23 bulan depan gue merid sob”
serentak kawan-kawanku menjawab “WHAT??? kenapa begitu mendadak? lu tekdung ya?”
“Enak aja, kaga lah. Bokap yang nyuruh, ga tau lah gue maunya mereka gitu ya gue nurut aja apa kata orang tua. Nyokap bilang sih itung-itung sekalian syukuran karena akhirnya gue lulus sidang juga walau makan waktu nyaris 6 tahun. Tau sendiri syarat gue buat kawin ya ijazah sarjana gue. Padahal abis lulus juga gue tetep kelola cottage-cottage bokap di Lembang, ga bakalan gue nyari kerja.”
“Ok gue ga bisa nongkrong lama-lama nih, biasalah kalau kata orang tua, gue lagi dipingit. Tapi weekend ini gue masih joint kok bareng kalian”.
Tanpa menghiraukan tanggapan teman-teman, aku pun melengos begitu saja tanpa kupikir ulang apa yang baru saja aku janjikan kepada teman-teman.

El pacarku, gadis cantik dari kampus seberang. Sudah 2 tahun yang lalu mendahuluiku meninggalkan kampus, dia lulus sebagai salah satu lulusan terbaik di jurusannya dan mendapat pekerjaan di perusahaan Forwarding milik Belanda di bilangan Jakarta selatan. El sangat mapan, hidupnya nyaris tidak ada yang kurang, dia cantik, kulit bersih, rambut hitam berbalut hijab, dengan mata agak sipit membuat dia makin terlihat manis. Selain kesempuranaan fisik yang ia punya, ia pun cerdas dan dewasa. El sangat komunikatif, wawasannya luas, dan memiliki kepribadian yang baik. Siapapun akan merasa sangat beruntung jika memiliki El, dan akulah si pria beruntung itu.

Sejak kuliah tingkat 2, tepatnya 5 tahun yang lalu aku mengenal El. Tak sulit bagiku mengutarakan kenapa aku menyukai El, setiap pria pasti memiliki alasan yang sama jika melihat sosok El. Tapi yang tak kumengerti adalah, mengapa El mau menerimaku sebagai kekasihnya. Tampangku tidak seganteng Dicaprio atau Brad Pit, badanku pun tidak seatletis Christiano Ronaldo, yang lebih parahnya lagi adalah otakku tidak secanggih Steve Jobs, ditambah lagi dompetku tidak setebal Ardie Bakrie. Ya ampun ibarat langit dan bumi jika aku bandingkan diriku dengan El . Tapi wanita ini hanya berkata “Kesempurnaan hanya milik Tuhan, yang harus dilakukan setiap manusia adalah saling melengkapi kekurangan”. Oh El andai Tuhan tidak marah jika aku berkata kau sempurna, maka aku merasa menemukan Firdaus jika bersamamu.

Seminggu menjelang hari pernikahanku, aku tidak terlalu sibuk melakukan ini itu, semua kebutuhan resepsi disiapkan kakak perempuanku. Kakakku lebih sering bertanya langsung kepada El dibanding bertanya kepadaku. Yah aku memang tidak mau terlalu ambil pusing untuk urusan resepsi pernikahanku. Yang kupusingkan saat ini hanya pergumulan yang berkecamuk di batinku. Ada setetes keraguan memercik di benak. Ya ampun perasaan apa ini, yang seharusnya berfikir ribuan kali adalah El bukan aku. Apa yang harus kuragukan dari El? dia mencintaiku, dia setia menungguku sampai aku menggiringnya ke pelaminan betapapun kondisiku masih jauh dibawah kemapanannya. Dia tetap teduh, dia tak banyak menuntutku. Lalu perasaan apa ini, kenapa aku seolah takut menghadapi seminggu lagi, hari dimana aku harus berikrar dan bersumpah. Ah ini hanya perasaan gugup saja. Segera kubuang jauh-jauh ragu yang menari-nari di benakku.

Malam ini weekend terakhirku bersama teman-teman sebagai bujangan, aku menepati janjiku kepada teman-teman. Malam ini kita pesta bujang.




Meluncurlah motor kami ke arah Jalan Pasirkaliki, melewati lampu merah lalu lurus sampai menemukan papan nama sebuah pesantren di kanan jalan, dan kami mulai memasuki gang tidak terlalu besar namun tidak sempit. Motor kami jalankan dengan kecepatan lambat agar kami bisa melihat dengan seksama produk-produk yang dipajang di etalase setiap rumah. Setelah puas berkeliling, berhentilah kami di suatu rumah tidak terlalu besar juga tidak terlalu ramai, kami berempat memarkir motor dan memutuskan memilih rumah tersebutlah yang akan menerima rejeki dari kami. Enam gadis cantik, masih kinyis-kinyis sudah memasang senyum termanis mereka, mengharap dihujani rejeki oleh pembeli yang tidak menyakiti.

Ketiga temanku sudah masuk kedalam kamar masing-masing dengan gadis pilihannya. Aku hanya duduk diam saja di kursi ruang tamu bersama tiga orang gadis yang tidak dipilih teman-temanku. Aku sering datang kesini, tapi aku hanya mengantar lalu menunggu teman-temanku sambil ngobrol-ngobrol dengan gadis-gadis yang belum mendapat penglaris. Aku memang tak pernah ada niat menjadi pembeli mereka. Satu persatu kusapa kuajak berkenalan, salah satu dari ketiga gadis ini bernama Amaya, gadis manis berbadan mungil, kulit putih, make up tidak terlalu tebal, namun tetap berbusana mini. Dia pendiam, hanya senyum sesekali melihat dua temannya merayuku tak henti-hentinya. Beberapa kali Amaya tertangkap mata olehku sedang melirikku diam-diam, seketika itu juga dia akan menjatuhkan pandangannya ke lantai, dinding dan angin. Ah gadis mungil ini, siapa yang membuatmu ada di tempat ini nak?

Aku dipersimpangan jalan, bukan untuk memilih jalan mana yang harus kulewati, aku tetap ingin disini tanpa harus memilih, karena aku memang tak bisa memilih. Ragu yang sedari kemarin menggelayut di ufuk pikiranku lenyap seketika berganti jadi rasa bersalah. Pernikahanku sudah didepan mata, El wanita yang setia menungguku tak akan sampai hati aku membatalkan pernikahan ini. Tubuh mungil itu telah membuatku menyadari betapa aku bukan apa-apa, aku hanya lelaki yang tak mengerti makna kehidupan. Kelamnya kehidupan Amaya membuat pudarnya perasaanku terhadap El menampakkan wujudnya.Ya ampun aku kenapa? 5 tahun aku merajut cinta bersama El, tak pernah aku meragukan dia ataupun perasaanku, tapi rintihan tubuh mungil itu membuatku tersadar, betapa aku tak memiliki perasaan kuat terhadap El.

Aku jatuh cinta kepada Amaya, aku ingin membawanya keluar dari keruhnya rumah mamih, aku ingin dia bahagia, aku ingin Amaya selamat tidak mengotori tubuh mungilnya dengan cambuk getir kehidupan. Ah aku terlalu naif,Aku ingin Amaya seperti anak-anak lain nya,yang pantas dan layak di jaga.
bukan menjadi budak si mamih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar