Minggu, 10 Juni 2012

Ku habiskan malam demi malam

“Jadi istri saya dan bayi didalamnya sehat kan dok?”
“Tentu saja pak Al, istri anda sepertinya tau betul bagaimana mempersiapkan diri menjadi seorang ibu”.
“Iya dok, istri saya memang cerdas, lain dengan saya”
“Akh pak Al ini terlalu merendah, bisa memberi istri kado paling berharga apa itu tidak cerdas pak?”
Pembicaraan 2 orang lelaki dewasa pun ditutup dengan tawa. Seraya El keluar dari ruang periksa di temani sang suster, kami pun berpamitan pada pak dokter.

8 bulan lagi aku akan menjadi ayah. Astaga perasaan suka ini begitu hebat bergemuruh di hati,akhirnya Tuhan mempercayai kami dengan menitipkan makhluk mungil yang sekarang sedang bersemayam di perut El. Kupandangi El lekat-lekat, ku elus-elus perutnya yang sebetulnya belum buncit, karena usia kehamilannya baru menginjak 4 minggu. Terima kasih El, kau telah menyempurnakan hidupku.

Sore ini seperti biasa kuantar El pulang ke Jakarta. Senin adalah hari dimana El harus memulai lagi semua rutinitasnya setiap hari. Yah bekerja, itulah yang dilakukan El di Jakarta yang sudah 4 tahun memisahkan kami sejak kami berpacaran. Biasanya aku akan menginap untuk 1 sampai 2 hari di apartementnya. Tapi hari ini lain, aku ingin terus menerus disamping El, menjaganya, merawatnya, melihat perkembangan perutnya. Akhirnya kuputuskan untuk menginap seminggu dan menitipkan cottage kepada teh Bella kakakku. Semua anggota keluargaku turut bersuka cita atas kabar kehamilan El, terlebih ibu. Dia yang paling tak sabar ingin segera menimang cucu dari anak bungsunya yang cantik itu.

Seminggu berlalu, kulewati setiap hari bersama istriku. Pagi hari kubuatkan ia sarapan, kuantar ia ke kantornya, sore kujemput lagi lalu kami makan malam di restaurant terdekat. Malamnya kumanjakan istriku, kupijat-pijat ia, ku usap-usap ia, kuberikan semua kelembutan-kelembutan untuknya. Ku ciumi ia, tapi tak berani kubawa ia tamasya hingga puncak. Begitu derap keinginan itu membahana, aku langsung teringat pesan ibu.

“Al, kamu jangan galak-galak ya sama El, kalau bisa kamu tahan aja sampai usia kehamilannya 4 bulan. Ibu khawatir, karena El perempuan bekerja ia menghabiskan banyak energi, sementara janin usia 1 sampai 3 bulan itu masih sangat rentan. Ibu gak mau terjadi apa-apa sama Isni dan cucu ibu. Makanya kamu harus bisa nahan, kalaupun ga tahan, jangan dikasih gerakan yang terlalu heboh. Inget itu Al, jangan terlalu semangat!”
Oh man, menahan sampai 3 bulan kedepan? bisa-bisa lupa cara bercinta nih! Tapi yasudahlah, demi istri dan bayiku, aku rela melakukannya sendiri saja, teman-teman bilang manual saja dulu.
“Ok ibu, anakmu yang ganteng ini akan menuruti nasihat ibu”

Intensitas yang penuh kualitas ini membuat aku melupakan sesuatu, ah bukan sesuatu, tepatnya seseorang. Weekend ini kami pulang bersama-sama ke Bandung, liburan kami habiskan bercengkrama dengan anggota keluargaku juga keluarga El. Minggu sore El akan kuantar pulang lagi ke Jakarta, dan kali ini mau tak mau aku harus meninggalkan El sendirian lagi di Jakarta. Tidak mungkin terus-terusan kutitipkan cottaage pada teh Bella, ia sendiri punya kesibukan dengan kehidupannya. Oh man rasanya tidak rela meninggalkan El sendirian dalam keadaan hamil muda. Tapi apa mau dikata, aku mengurus bisnis keluarga di Bandung, satu-satunya lahan usaha yang menjadi sumber penghasilan kami dan telah menghidupi kami selama puluhan tahun. Sementara El bekerja di Jakarta karena memang ia ingin bekerja. Lagi-lagi kurelakan saja keadaan ini. Semenjak El hamil, aku lebih terlihat seperti setrikaan sangat sering mondar mandir Bandung-Jakarta dan kali ini lebih sering menginap di Jakarta.

Hari ini kami merayakan 7 bulan usia kandungan El, kami mengadakan syukuran dan upacara 7 bulanan di kediaman orang tua El. Aku mengundang beberapa teman dekatku semasa kuliah. Suasana rumah El tidak terlalu ramai karena ini hanya syukuran biasa tidak banyak mengundang orang, hanya kerabat terdekat saja. Dimas temanku datang sendirian, beberapa teman yang lain datang bergandengan dengan pasangan masing-masing. Sepintas aku teringat masa lalu bersama mereka. Pria-pria ingusan pencari jati diri, aku mengulum senyum melihat mereka. Ada yang ingin kutanyakan kepada mereka tapi hentakan kebahagiaan ini membuatku tak lagi perlu menanyakan dia. Dia gadis mungil yang membuatku sulit hidup normal bersama El, dia gadis mungil yang menghabiskan malam demi malam bersamaku di permukiman ketika istriku di Jakarta. Dia, dia, dia, Amaya, bagaimana kabar dia? masih menjadi budak mamih kah? masih cantik kah? masih santun kah? Apa dia masih ingat aku? atau apakah dia masih menungguku? Tiba-tiba saja mataku terasa panas, sesuatu meleleh disana, dan nyaris menetes. Ya ampun sisi femininku sedang dominan.

6 bulan yang lalu semenjak El mengandung, aku putuskan berhenti menemui Amaya, sudah saatnya aku hidup normal. Aku akan menjadi ayah. Aku tinggalkan Amaya tanpa perpisahan, bahkan secarik kalimat bye bye pun tak kuberikan. Aku yakin Amaya akan baik-baik saja. Aku pun mulai dengan segudang kesibukanku mendampingi El, aku mulai memudarkan Amaya dari ingatanku. Hari berganti waktu berlalu, Amaya luntur seperti jejak kaki di pasir pantai yang tersapu ombak, rata tak berbekas. Benarkah semudah itu aku memudarkan Amaya? ah sudahlah dia pasti akan menemukan kebahagian dengan caranya sendiri.

Ditengah-tengah riuhnya acara, Dimas menghampiriku membisikkan sesuatu di telingaku. Otot-otot kakiku tiba-tiba melemas, dadaku sesak bukan kepalang, pandanganku nanar menatap El dan perutnya yang kian membuncit. Tuhan jangan rampas kebahagiaan mereka aku mohon, seketika juga aku menghambur keluar rumah kubiarkan yang sedari tadi meleleh berjatuhan menggenangi pipiku. Ini bukan sisi femininku, siapapun akan remuk redam mendengar kabar ini. Ingin mati saja rasanya, tak seharusnya aku melimpahkan dosa ini kepada istri dan bayi kami. Dimas mengikutiku dan menyuruhku tenang, yang kupikirkan hanya aku ingin bersamanya, menghiburnya.Ajaib jika aku tidak seperti Amaya. Madu itu kureguk setiap saat sampai akhirnya aku keracunan. Dan lihatlah istriku kini tengah hamil.

“Al, Amaya sudah 1 bulan di rumah sakit. Dia sifilis sudah tahap tersier. Suspectnya dia sudah tejangkit HIV.
Bisikan Dimas yang membuat jantungku hampir berhenti berdetak.Amaya si gadis kecil budak si mamih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar