Senin, 11 Juni 2012

Dari Masa Depan


“Hai…” Aku menyapanya duluan.
Hai juga
Yess.. Dia tersenyum kepadaku. Dua kata tersebut bagiku sudah cukup, yang penting akubisa melihatnya tersenyum pagi ini. Dia lalu pergi menemui teman-temannya. Aku melanjutkan meneguk kopi di gelasku.
“Boleh duduk disini ?” Tanya seorang pria setengah tua kepadaku.
“Silakan Pak”
“Kalau kau suka kepadanya, lebih baik kau katakan”
“Eh?” Aku setengah kaget, dia seperti bisa membaca pikiranku
“Kantin ini tidak banyak berubah” Lanjutnya
“Bapak dulu kuliah disini?”
“25 tahun yang lalu, dan ini kursi favoritku” Sambil menunjuk ke arah kursiku.
“Pasti karena banyak wanita cantik yang duduk diseberang kursi ini kan? haha”
“Betul sekali”
“Penyesalan datangnya belakangan, Cepat kau lakukan sebelum terlambat”
“Mengatakan cinta?”
“Ya, aku menyesal dulu tidak mengatakan cinta kepada seorang wanita. Sama seperti mu. Dan sekarang aku masih menyesal”
“Lantas kalau ditolak?”
“Cinta selalu punya jawaban yang tepat bagi orang yang mengejarnya”
Rupanya aku berbicara dengan seorang pria sok bijak yang bahkan aku tak tau dia darimana.
“Bapak berasal darimana?”
“Masa Depan”
“Mana mungkin aku percaya”
“Waktu ku tidak banyak, aku harus pergi, kau yang bayar ya” Pria misterius itu beranjak pergi. Selagi aku ke kasir, dia sudah agak jauh.
“Tunggu, siapa namamu pak?”
“Al-Fahrezi”
Hei, Itu namaku.
Dan dia menghilang di keramaian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar