Selimut malam yang dingin. Dan, kala kusebut namamu kehangatan menyergap jiwa. Duhai kasih. . .
maafkan aku jika lagi-lagi membuatmu kecewa. Dan aku malu karena tak berkurang kasihmu padaku.
dalam diam ku ukir kerinduan sambil mendaki kegelapan
menjemput malam dengan kekaguman yang dasyat pada proses pengantian siang dan malam. Aku malu pada rindu yang terabaikan
membaca mantra senja berharap dirimu kan tiba menyapaku dengan senyum rembulan.
Tersandung kaki malam usai memetik senja merah jingga. Ku titip salam untuk mu karena aku akan berlalu, jauh. . .
menyentuh dinding langit malam. Aku tersengat kobaran api kerinduan di kesunyian jiwa. Duhai, Engkau dimana 'L'?
menelusuri jejak awan di langit sunyi sambil menepis kabut di hati
Akhirnya, kutemui lagi dirimu dalam doa sang malam. Izinkan kuteguk anggur kesyahduan lewat cangkir bulat rembulan tengah malam. Kuharap, tak ada ketukan pintu karena kesunyian adalah bilik pertemuan hati kita. . .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar