Minggu, 09 Juni 2013

Pujaan Hatiku Ternyata Pilihan Ibu

“Menikahlah dengan ’L,” pinta mama untuk kesekian kalinya.
“Insya Allah, dia perempuan yang shalehah,
dan bisa menjadi istri yang baik kelak untuk kamu!”
Ini sudah permintaan kesekian mama untuk menikah dengan gadis pilihannya.
Aku hanya menunduk dan tak berani menatap mata mama.
Tak sanggup aku melihat wajah teduh mama yang pasti rautnya bakal berubah
setelah aku selalu menolak permintaannya.
Baru kali ini aku berat untuk mengiyakan permintaan beliau.
“Tapi aku sudah punya calon istri sendiri ma, aku…” tak sanggup aku melanjutkannya.
Mama memelukku.
“Iya, Mama paham, tapi Mama mohon satu kali ini saja,
sebelum Mama menyusul Papa.
Mama ingin melihat kamu menikah dengan perempuan yang hati Mama inginkan,” suara Mama mulai parau.
Kurasakan ada air yang menetes ke atas pundakku.
Malam itu badanku hanya dibalut kaos singlet putih.
“Mama sudah melihat 'L'. Menyelidikinya, dan menurut penilaian Mama,dia bisa menjagamu, menjaga anak-anakmu dan juga menjaga Mama.
Ia perempuan yang baik le’. Lembut perangainya, halus budi pekertinya,
dan insya Allah dia sederhana lagi bersahaja,” masih dalam pelukan,
suara mama mulai melemah di telingaku.
“Tapi bagaimana dengan 'Hikma', ma?”
“Mama tahu kamu sudah memilih 'Hikma'. Tapi dia itu belum pasti,”
kali ini mama mencoba mempengaruhiku.
“Kamu tak perlu takut. Insya Allah 'L' adalah perempuan dengan wajah cantik.
Mama menjamin itu,” tegasnya.
“Beri aku waktu setidaknya satu minggu Aku ingin istikharah.”
Aku tidak mampu lagi menjawab
Ah,ma seandainya engkau tahu betapa dalam perasaanku 

Aku tidak sanggup melihat wajah kecewa mama saat keluar kalimat penolakan dari mulutku.
Aku tidak sanggup menjadi durhaka. Maafkan aku ya Rabb.
Aku akan “samina wa atoqna”.
Semoga Engkau meridhai jalan yang aku pilih.
Bukankah ridha Allah itu ridha orangtua?
Ibu gembira. Kesibukan pun langsung melanda rumah mungil peninggalan almarhum Papa.
Rumah sibuk berhias. mama dibantu keluarga dan tetangga repot mempersiapkan seserahan.
Tak menunggu waktu, mama menyeretku ke toko emas di pasar dekat rumah.
“Keluarkan uangmu, kita beli mahar perhiasan emas untuk calon istrimu.
mama yang memilihkan,” ujarnya penuh semangat.


Gembira jiwa ini melihat mama sumringah. Tapi hati ini masih diayun-ayun bimbang.
Pertemuan kedua keluarga pun terjadi.
Aku terdampar di rumah 'L'
Kulirik sedikit wajahnya yang berhias sedikit polesan.
Bibirnya tersapu gincu tipis. Cantik juga.
Wajahnya putih bersih, matanya berbinar, pipi tambun bersanding senyum simpul dengan hidung mungilnya.

Balutan Hijab merah menyempurnakan penampilannya.
Tapi hati ini masih bimbang.
Satu pekan setelah acara khitbah, Akad Nikah dilaksanakan, walimah pun digelar.
Aku tidak banyak mengundang teman-teman kantorku.
Tapi tamu yang hadir cukup banyak datang silih berganti.
Kudengar orang tua 'L' mengundang seribu relasinya.
Di antara ribuan orang tersebut, aku mencari sosok seseorang.
Berharap dia datang. Ahh.. aku hanya berkhayal, bagaimana ia tahu aku menikah hari ini,
bila aku tak pernah lagi berkomunikasi baik surat dengannya.
Malam pun tiba. Setelah lelah seharian menjadi raja yang dipajang di atas pelaminan.
Usai membasuh riasan dan mengganti pakaian, aku masuk kamar pengantin yang serba putih.

Seprai, bantal, guling dan dinding yang dihiasi kain putih. Aku duduk mematung di pinggir tempat tidur.
Sementara 'L', istriku, baru keluar dari kamar mandi.
Ia memakai gaun putih panjang pemberianku yang ada dalam seserahan.
'L' jauh lebih cantik bila rambutnya tergerai. Wajah dan tubuhnya begitu menggoda. Tapi tidak hatiku.
Ia mendekatiku. Tersenyum namun wajahku datar.
Tipis kulempar senyum agar canggung mencair.
'L' semakin mendekatiku. Duduk merapat di samping kananku.
“Mas akhirnya kamu jadi halal untukku,” suaranya merdu.
Baru kali ini aku mendengar secara utuh,
setelah seharian aku hanya membisu di pelaminan
ketika ia mengajak bicara. Berkhayal 'Hikma' yang ada di kamar itu.
Berdua dengannya.
Kepalanya direbahkan ke pundakku.
Sedikit kaget, tapi kubiarkan. “Maaf, aku masih kaku,”
kataku untuk menyembunyikan keraguan.
“Aku tahu,” ujarnya melemahkan dan mengangkat kepalanya.
Dahiku berkerut. “Kamu tahu apa?”
“Apa kamu mencintai perempuan lain?”
pertanyaannya menampar hatiku.
Lidahku mematung di dalam mulut.
Ia mengetahui bila ada perempuan yang lebih dulu menyambar hatiku.
Jelas saja, sikap dinginku adalah refleksi dari pertanyaannya. Aku diam.
“Diammu itu adalah jawaban mas.”
Ya Allah, maafkan aku bila pikiran ini sudah masuk ke dalam ranah selingkuh.
Padahal di hadapanku ada bidadari teramat cantik.
“Mas, kamu pasti sedang memikirkan Hikma?” wajahku bingung.
Kuputar posisi duduk ke hadapannya.
“Dari mana kamu tahu tentang Hikma?” masih dalam heran.
Dia beranjak dan mengambil sebuah kotak kayu kira-kira berukuran 150×250mm
dari dalam lemari pakaian. Kulihat di dalamnya ada puluhan,
bahkan ratusan surat terdokumentasi rapi di dalam kotak warna coklat.
Ia mengambil selembar foto dan selembar surat yang letaknya paling atas.
Surat itu, aku mengenalnya. Dan itu fotoku yang kuselipkan di surat terakhir yang kukirim ke Hikma.
Ia tersenyum ketika kurebut surat itu.
“Aku Hikma mas. Nama Hikma adalah nama panggilan masa kecil aku di rumah .


Maaf bila aku menyembunyikan nama asliku.”
“Awalnya aku juga menolak dijodohkan,
tapi ketika ibu memperlihatkan foto kamu, hatiku riang.
Aku menggali informasi dari ibu untuk memastikan bahwa kamu
dan foto yang ibu bawa adalah orang yang sama.
Aku sudah tahu bahwa kamu adalah lelaki yang dijodohkan ibu dan mama.
Karena itu aku tidak menjawab surat terakhir kamu.
Aku ingin membuat kejutan kepada penjaga hati dan tubuhku,”


ujarnya sembari mengulum senyum.
Kedua mataku basah. Berair. Ini adalah air mata dari mata air surga.
Ya Allah, engkau menyiapkan kado terindah yang tidak pernah aku duga.
Ternyata Hikma dan 'L' berasal dari satu jiwa.
Ia wanita yang kucintai. Mama ternyata mengerti keinginan anaknya.
Hujan pun bersenandung riang malam itu, mengiringi malam pengantin kami.
dan pastinya malam yang indah sekali…..
^_^



Tidak ada komentar:

Posting Komentar