Sabtu, 27 Oktober 2012

Memelukmu Dengan Doa dan Cinta


Aku pernah mencintai seperti matahari yang mencintai bunga.. memberikan sinarnya agar bunga bisa mekar bersemi… namun aku hanya bisa memandang dari jauh.. saat kupu-kupu yang menari bersama bunga…
Aku pernah mencintai seperti pohon yang mencintai daun.., namun angin merenggutnya dalam cengkeramannya yang sporadis…
Aku pernah menunggu mekarnya bunga kaktus yang indah dalam keringnya padang gurun yang gersang. Hingga bunga kaktus itu mekar.. namun aku tak mungkin menetap bersama kaktus itu.. aku harus terus melangkah.. ia hanya menjadi penolong di saat aku hampir tak punya asa.
Aku pernah mencinta bagai laut lepas yang mencintai batu karang.. berusaha memahat namaku pada dinding-dinding cadasnya.. namun karang tetaplah bergeming… hanya buih-buihku yang menyelusup pada pori-pori karang itu… tanpa pernah aku bisa bersamanya…
“Boleh aku tanya sesuatu 'L'..? Kini tubuhku semakin kurus, keriput.., tak punya rambut, sebelah tanganku tak bisa digunakan, duduk di kursi roda, sering pusing dan penglihatanku buram…, tak ada lagi keistimewaan dalam diriku yang bisa kuberikan padamu… aku tak mau membuatmu kecewa… konsep cinta seperti apa yang masih bisa terjalin antara kau dan aku?”
“Mencintaimu itu indah, sayang… keberadaanmu hingga saat ini masih di sampingku adalah hadiah terindah setiap harinya.. your present is a gift for me apalagi yang kuharapkan? selain selalu bisa melihatmu setiap pagi.. terbangun dan masih bisa tersenyum melihatku…”
“.. thank you for your kindness… loving someone without expect anything…”
“Eh.. kenapa menangis..? apa aku melukaimu..?”
'L' tak menjawab.. hanya semakin erat menggenggam tanganku…
Kuusap basah di pipinya…
Empedokles berkata “cinta adalah prinsip penyatu kehidupan”
Semua unsur molekul kehidupan terhimpun menjadi satu oleh cinta…
mengalir dan menyelusup di semua celah tak terkecuali
hingga sampai setitik noktah
Menenun dan merangkai keseluruhan wajah dunia
hingga berwarna-warni
seperti indahnya pelangi
yang tertuang di atas kain dengan motif yang indah.
Mungkin aku tak pandai menyusun kata penutup yang indah untuk mengakhiri percakapan kita. Hanya bisa kutatap matamu bak pendar bintang malam ini, melembut sayu hingga seakan terlihat kelabu. Di luas langit terbentang ribuan bintang, yang akhirnya gugur satu per satu. Namun intiplah, mata ini masih tak mau sedikitpun terpejam… Aku enggan tidur.., hanya kukecup kepalamu.
Seribu musim telah kita lewati bersama, kau selalu kisahkan untukku, bukankah malam adalah istana tempat paling megah di bumi? Semua itu terlukis jelas. Diary hatiku memuat semua tentangmu.. ya, ketika engkau duduk bersanding dengan ku, hanya untuk berbagi sekedar senyum, cerita dan sebait puisi. Dan aku selalu bertanya, bahagiakah engkau di sisi ku?
Dan kau menjawab, “kita akan selalu berbagi mimpi untuk menciptakan esok pagi…”
“Tidurlah sayang… biar kupeluk dirimu dengan doaku…”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar