Untuk kamu,
yang pernah sempat aku menyerah, tanpa tau akhirnya aku perjuangkan juga
Hey..
Sukakah kamu pada hujan?
Tetes-tetes yang mengetuk jendela kamarmu saat langit tiba-tiba menggelap. Yang terkadang kamu keluhkan karena ia jatuhi keningmu saat kamu tengah tertidur lelap.
“Atap diatas kasurku bocor. Jadi kalau hujan, airnya netes ke mukaku langsung,” katamu waktu itu. Aku dengar suaramu begitu gusar saat ceritakannya di telepon. Lucu sekali.
Sukakah kamu pada hujan?
Tingkah alam yang banyak orang bicarakan. Bikin orang-orang ingat kenangan lama lah, ingat pacar yang jauh lah, ingat gebetan lah, dan blah...blah...blah.. lainnya. Hujannya sedikit, galaunya seharian.
Kalau kamu, siapa yang kamu ingat saat lihat tetes hujan turun pelan-pelan di kaca spion motormu?
Sukakah kamu pada hujan?
Yang aku tau, aku dan kamu sukanya nonton film. Semua jenis film. Dan hujan tentu saja ada di beberapa scene di dalamnya.
Kurang sedap dirasa sebuah film drama cinta jika tanpa scene hujan-hujanan bersama. Tentu saja nantinya si aktor ganteng dan si aktris cantik biasanya akan berjalan bersama dibawah satu payung. Atau, si aktris menunggu si aktor yang sedang selingkuh sampai basah kuyup kehujanan. Mungkin pula sesederhana si aktor dan si aktris yang lari-lari kecil mencari tempat berteduh saat mereka pertama kali bertemu, lalu berkenalan.
Apakah selama 5 tahun bergulir hujan sedang turun saat kita pertama kali berkenalan?
Jangan. Jangan kamu tanyakan sukakah aku pada hujan.
Aku jatuh cinta pada hujan. Pada suara gemericik tetesannya. Pada hawa sejuknya. Pada tebar wanginya di udara.
Wangi hujan seringkali bius aku untuk membayangkan tentang kamu lebih lama. Tentang ceritamu yang saat hujan tak pernah mau pakai payung. Tentang helm motormu yang basah terguyur hujan karena tanpa dilengkapi kaca. Dan tentang betapa kesalnya kamu saat tiba-tiba hujan, listrik padam, lalu baterai ponselmu hanya tersisa setengah.
Wangi hujanpun yang sadarkan aku betapa aku perhatikan kamu begitu dalam. Aku ingat setiap detail cerita-cerita yang kita tukar bersama.Aku ingat apa yang kamu suka, yang kamu kurang suka, yang mungkin akan kamu lakukan, dan yang mungkin akan kamu pilih untuk gak dilakukan.
Ya, memang. Setiap detik waktu kamu bersama aku berusaha pelajari kamu. Lalu tiba-tiba, aku terjebak dalam dunia kamu, sampai sekarang.
Mungkin diri kamu sendiri juga belum sadari itu.
Dari Aku
yang masih terjebak, tapi belum juga mau beranjak
Tidak ada komentar:
Posting Komentar