Rabu, 30 Mei 2012

Tasbih Cinta

Mata yang seakan tak pernah terlelap kala sang raja malam telah memasuki ruang-ruang maya manusia lainnya, mencoba menvisualkan sosok sang hawa yang paling mulia disingasana hatinya, setiap malam dan setiap keheningannya seakan tak jemu menghitung perjumpaannya dan membayang lekuk-lekuk raga dan merasakan getaran-getaran aroma asmara yang menulusuk dan menikam hingga ke pusara sanubarinya, senyum yang manis berpadu dengan jilbab yang anggun yang menghias wajah sang hawa.

Tutur kata dan bahasa yang semuanya menjadikannya filosof cinta dan pejuang cinta yang tak pernah lelah untuk menyerah. Ia kadang menyalahkan dirinya sendiri, mengapa perjuangan ini tak bisa di akhiri! Kenapa jalan takdir ini berliku dan seakan berkelok dan kadang mendaki serta mendadak menurun, pikiran dan ide-ide uthopis seakan tak berguna melihat kenyataan yang ada didepan mata.

Matanya berkaca dan menyadari bahwa manusia hanya bisa berikhtiar dan berdoa, biarlah aku mengalir seperti air dan berkelok menuju muara yang sebenarnya.

Ia masih terasa baru saja menyimpan file 1 bulan yang lalu tentang perjumpaan dengan sosok wanita itu dimemori bathinnya. Terasa baru beberapa jam lalu ia berjumpa dengannya, ya "L", tepatnya, sosok wanita yang shaleha yang ia kenal. Ia memandang penuh kagum saat "L"mengenalkan dirinya, seakan berdebar dan berirama bak drum yang ditabu para drumer saat konser musik rock, semakin lama semakin kencang, ada getaran yang membuat dia terlena memandang paras wajah yang berselimut jilbab. Saat sesi istirahat ia mengenalkan dirinya,
“ Malam Ando ? itu merupakan sapaan pertama "L".

“Wahai malam"
sampaikanlah doa ini,
tuntunlah bidadari-bidari malam ini
untuk membunuh kesepian ini,
biarkalah mereka mendekapku
dan mencumbuku dalam singasana cinta,
Adakah mutiara sang hawa yang sudih membalut luka jiwa ini,
membasuh mutiara cintaku yang lama berkarat,
membersihkan Rumah-rumah cinta sang jiwa,

Aku dahaga,
adakah segelas air cinta
aku lapar
adakah semangkok bakso cinta untuk mengisi kekosongan ini

Setelah mengkomat kamitkan Syair yang ia buat dalam keheningan hatinya. Kemudian ia berdiri dan mengambil Air wudlu dan bermunajat kepada sang pencipta.
Oh…..Tuhan…
Aku tak ingin mendebat takdir ini
Biarkan tasbih ini reflek menasbih di nurani
Aku hanya sang pengembara kasih
Meniti cinta yang suci
Aku tak ingin jiwa ini mati
Tapi mampukah aku berdiri
Berjalan dan melangkah dalam syariat-syariat kehidupan ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar