Senin, 14 Mei 2012

Sayang. . . .

Sayangku…
aku begitu bersyukur atas anugerah yang Tuhan berikan pada aku, yaitu kehadiranmu dalam hidupku. Rasa bahagia dan haru tak dapat dilukiskan ketika akhirnya kita berdua terikat dalam janji suci pernikahan setelah dipisahkan lautan dan benua demi mewujudkan masa depan indah kita berdua. Saling berbagi kesusahan dan kesenangan dalam sehat dan sakit dalam kasih dan pengertian membuat kita berdua semakin mengerti apa makna dari memiliki dan pengorbanan.
Ketulusan hatimu akan pengorbanan dan cinta kasihmu membuat aku menjadi pria seutuhnya yang beruntung dipercaya oleh Tuhan untuk dititipi seorang istri sepertimu. Tiada keraguan sedikitpun dalam diri  untuk mengabdikan cinta dan berbakti sebagai seorang suami padamu sebagai imam keluarga. Aku dan kamu saling melengkapi kepingan puzzle kehidupan.Perjalanan bahtera kebahagiaan rumah tangga kita berdua begitu sempurna ya Sayang… Hingga pada suatu waktu Tuhan memberikan cobaan untuk kita. Sakit yang mendera diri ku tanpa ampun membuat aku tidak dapat menjadi suami yang seutuhnya dapat melayanimu dengan baik. Dalam ketidakberdayaan dan pasrah, aku merasa sedih dan frustasi begitu takut ditinggalkan olehmu dalam sakit dan kesendirian. Lagi-lagi kesabaran dan kesetiaanmu telah membuktikan sumpah yang kau ucapkan saat kita menikah dulu, bersama dalam sakit.
Sayangku… kamu itu manusia apa malaikat? Matamu yang sipit memberikan keteduhan saat menatapku, pelukanmu memberikan kehangatan, kesabaran dan kelembutan hatimu meluluhkan dinding ego ku, semuanya.. semuanya darimu membuat aku selalu jatuh cinta tiap hari padamu, Sayang.
Sekarang aku sudah terbebas dari semua rasa sakit, berkat kamu… para dokter… keluarga besar kita berdua… dan tentunya Tuhan. Seharusnya kalian semua, terutama kamu – Duhai makmumumku tersayang, tidak lagi murung dan sedih karena akusudah sehat. Ada apa Sayangku? Apa karena kita sekarang terpisah oleh jarak lagi seperti sebelum kita menikah dulu?
Maafkan aku ya Sayang, sungguh tidak bermaksud sedikitpun meninggalkanmu seorang diri setelah apapun kebaikan yang telah kamu lakukan dan perjuangkan untuk diri ini. Memang sudah seharusnya aku pergi agar kamu mendapatkan kebahagiaan yang hakiki. Maafkan aku yang tidak dapat memberikan apa yang selama ini kamu dambakan.
Dengarkan aku, sayang… Aku tidak akan kembali lagi kehidupanmu sekarang walau mungkin suatu saat nanti kita akan bertemu lagi. aku mohon, jangan lagi bersedih dan begitu kehilangan seperti itu karena kamu bisa mati terbunuh sepi,aku tidak tega melihatmu menderita seperti itu ditinggalkan olehku. Kembalilah seperti dirimu yang dulu, rajutlah kebahagiaanmu sendiri karena kamu layak mendapatkan itu semua. Mari kita saling merelakan bahwa hubungan kita hanya berakhir sampai disini, tidak ada sumpah pernikahan yang diingkari. Carilah lagi pria lain yang dapat membahagiakan dan memberikan buah hati untukmu, Sayang… aku  percaya pada pilihanmu.Aku baik-baik saja disini.
Baiklah, kamu boleh sesekali mengunjungi aku disini, kamu tahu dimana harus menemui aku kan ? aku tahu kamu mencintaiku, begitupun dengan diriku.
Ketahuilah Sayang, kalau umur ini panjang tentu saja aku akan mendampingimu hingga kamu menutup mata. Hapus air matamu, Sayang… kamu sudah menjalankan kewajiban sebagai seorang istri yang menafkahi lahir batin dengan kebahagiaan hingga maut memisahkan kita berdua.
-Suami yang mencintaimu dari surga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar