Kepada: Cincin di jari manis.
Hari ini, setelah lamanya dia menetap di jemari manis sebelah kananku, kuungsikan juga ke jemari lainnya. Setelah semalam ada yang menghampiri dan bertanya, “Itu cincin di jari manis, memang kamu sudah menikah?” lagi aku tersenyum tanpa memberi jawaban. Cincin polos kuning keemasan yang sudah ada lama ini tidak pernah barang sedetik pun berpindah, bahkan saat aku mandi.
Mereka bilang orang yang bercincin di jari manis sebelah kanan otomatis memberi tahukan ke orang lain bahwa ia sudah menikah. Haruskah aku menikah dahulu hanya untuk memperindah si manis? Haruskah aku mengikat janji hanya untuk merias si manis?
Bekas cincin itu memutih di jemari. Memberikan tanda ada yang memang bertahta di sana. Seperti hatiku yang memang sudah ada pemiliknya, *si pemberi cincin polos berwarna kuning keemasan*. Tanda itu mengingatkan aku kepada kekasihku, pemilik hatiku, yang telah menikahi hatiku saat ini.
*Si pemberi cincin* yang kini sudah tiada yang mengamanatkan kelak akan ku sematkan di jari manis Istriku nanti.
Yang sudah bahagia di surga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar